Harga Gula Turun, Lahan Tebu Diprediksi Susut

Harga Gula Turun,  Lahan Tebu Diprediksi Susut

 

Luas lahan budidaya atau pengusahaan tebu di Pulau Jawa pada musim tanam 2014 diperkirakan mengalami sedikit penurunan dibanding musim sebelumnya, sebagai dampak menurunnya harga gula saat panen 2013.

Senior Advisor Asosiasi Gula Indonesia (AGI) Adig Suwandi mengemukakan harga gula yang kurang menguntungkan saat giling tahun lalu berpotensi mereduksi animo petani dalam meningkatkan produksi dan areal pengusahaan tebu.

“Petani mungkin hanya mempertahankan keprasaan yang ada dan sangat sedikit melakukan perluasan areal. Kami perkirakan luas areal tebu di Jawa turun sekitar 6 persen sehingga menjadi 282.000 hektare, sementara secara nasional luasnya sekitar 447.000 hektare,” katanya.

Adig mengungkapkan, musim giling 2013 yang ditandai hujan berkepanjangan hingga bulan Agustus, mengakibatkan produksi tebu tidak maksimal dan rendemen turun.

Harga rata-rata lelang gula sepanjang 2013 turun drastis, dari Rp10.166 perkilogram pada Mei, menjadi hanya Rp8,671 perkilogram pada Desember.

“Beban petani semakin bertambah menyusul naiknya sejumlah komponen biaya produksi, seperti sewa kebun dan tebang angkut,” ujarnya.

Kendati luas areal budidaya menurun, Adig masih cukup optimistis rendemen tebu tahun ini bisa lebih baik dibanding sebelumnya, dengan estimasi sekitar 8,08 persen atau naik 0,9 poin.

“Perubahan agroklimat menjadi ekstrim atau kering selama panen tebu tahun ini diharapkan bisa mengubah peta produksi gula secara nasional,” tambahnya.

Produksi gula secara nasional pada 2013 sekitar 2,55 juta ton, yang berasal dari hasil penggilingan tebu sebanyak 35,57 juta ton dan areal budidaya seluas 470.198 hektar.

Adapun produktivitas per hektar tercatat 5,4 ton hablur dengan komponen berat tebu 75,6 ton dan rendemen 7,18. (atr/ram)