Harga Gula Terjun Payung, Petani Tebu Menjerit

 

Harga Gula Terjun Payung, Petani Tebu Menjerit

Harga gula kristal putih (GKP) yang  terus menurun mulai memakan korban di Jawa Timur (Jatim). Petani tebu terus merugi, karena harga yang diperoleh tidak sebanding dengan modal yang dikeluarkan saat tanam.

Pada 2014, tren harga gula mengalami penurunan cukup besar. Hingga September 2014, penurunan harga menyentuh titik terendah dalam tiga tahun terakhir, berkisar Rp8.100 /kilogram. Padahal, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menerbitkan SK nomor 45/M-DAG/Per/8/2014 tanggal 8 Agustus 2014 tentang perubahan atas peraturan Menteri Perdagangan nomor 25/M-DAG/PER/5/2014 tentang penetapan harga patok petani gula kristal putih tahun 2014. Dalam aturan ini menyebutkan, pemerintah mematok harga gula sebesar Rp8.500/kilogram. “Penurunan harga gula ini karena pasar yang menginginkan. Jadi, kami juga merugi,” kata M. Khoiri, Corporet Sekretaris Perusahaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN XI).

Selain itu, ujar dia, penurunan harga dipicu dengan kebijakan pemerintah yang melakukan impor gula terlalu berlebihan. Padahal, dibeberapa daerah ada kelebihan stok gula yang dimiliki, seperti pabrik gula (PG) dan petani tebu rakyat (PTR) di Jatim. Hingga awal Agustus 2014, tercatat stok gula di Jatim mencapai 410.821 ton. Sedangkan BPS dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jatim menyebutkan, konsumsi gula masyarakat Jatim berkisar 50.000 sampai 60.000 ton per bulan.

Dengan asumsi kebutuhan itu, maka Jatim memiliki kelebihan stok gula sampai 350.000 ton perbulan. Kelebihan tersebut sangat kecil terserap oleh pasar, dan sebagian besar masih menumpuk di gudang-gudang milik PTPN. “Kebijakan impor berlebihan juga menjadi pemicu penumpukan gula lokal,” ucapnya.

Memang, beber Khoiri, secara nasional masih kekurangan gula, tetapi pemerintah terlalu berlebihan dalam meng-impor gula. Imbasnya, gula lokal tidak bisa masuk ke daerah luar Jawa yang biasa menjadi langganan pengiriman gula, seperti Indonesia Timur. Di daerah tersebut sudah banyak gula dari impor, sedangkan mereka tidak menerima gula lokal karena stok melimpah.

Di Jatim, tren persedian fisik gula dari awal tahun 2014 hingga sekarang adalah kurva terbalik, yakni stok tinggi diawal tahun karena menumpuk sisa produksi tahun 2013 lalu, karena belum terserap pasar. Idealnya, permintaan dan penawaran pasar harus membentuk kurva sempurna, dimana pada awal dan akhir tahun jumlah persediaan kecil, sedangkan dipertengahan tahun jumlah persediaan besar karena masa produksi pabrik gula.“Menumpuknya barang yang tidak terserap pasar akan menjadi masalah bagi pelaku industri. Penumpukan gula itu akan berpengaruh terhadap cash flow dan likuiditas keuangan,” papar Khoiri.

Kondisi ini memiliki resiko yang cukup besar, saat gula disimpan terlalu lama maka mutu gula mengalami penurunan. Sedangkan bagi PTR akan menyulitkan permodalan dan operasional dalam beraktivitas. “Bagi pelaku industri, harga gula dibawah Rp8.500/kilogram dibawah HPP sangat mengecewakan. Ini yang membuat merugi,” terangnya.

Ketua Serikat Pekerja Perkebunan PT PTPN XI, Beta Sorianto mengatakan, pemerintah harus segera mengambil tindakan terhadap kejadian ini. Menurut dia, kondisi ini akan semakin parah jika tidak ada tindakan nyata, petani dan karyawan yang akan menjadi korban terhadap kebijakan harga gula. “Impor gula harus dicarikan solusi, jangan sampai dengan mengimpor justru mematikan industri lokal,” katanya.

Beta menegaskan, aturan harga gula yang ditetapkan pemerintah tidak jelas, karena pasar tidak menginginkan harga itu. Sebaiknya, pemerintah mendasari penetapan harga sesuai dengan harga pasar. Dengan begitu, produksi gula bisa berjalan dengan baik tanpa ada salah satu sisi yang dirugikan.(gtr)