Harga Garam Naik Rp 450 Per Kg

 

Harga Garam Naik Rp 450 Per Kg

Harga garam di tingkat petani mengalami kenaikan menjadi Rp 450 per kg. Sebelumya, garam hanya dihargai Rp 400 per kg. Kenaikan ini terasa sejak Juni sejalan dengan berkurangnya stok di petani.

Ketua Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) Jatim M Hasan mengatakan, naiknya harga garam di tingkat petani dipicu jumlah stok yang terus menyusut. Apalagi saat ini baru memasuki panen perdana, sehingga jumlahnya belum signifikan. Sedang panen raya diperkirakan berlangsung sekitar 1-2 bulan ke depan.

’’Jadi, garam yang di tingkat petani ini sebagian besar stok lama. Kalaupun ada hasil panen tahun ini, jumlahnya belum banyak. Makanya, harga garam di tingkat petani naik mencapai Rp 450 per kg,’’ urainya.

Kalau harga di tingkat petani Rp 450 per kg, maka harga di collecting point di tepi jalan raya jauh lebih tinggi. Yakni bisa mencapai Rp 550 per kg. Sebab, di dalamnya memuat biaya ongkos angkut.

Menurut ia, kenaikan harga tersebut tidak serta merta menaikkan keuntungan petani. Sebab, garam yang dijual itu merupakan stok lama, maka petani juga menanggung kerugian akibat terjadi penyusutan volume selama penyimpanan. Karena itu, ada petani yang memilih menahan penjualan sambil menunggu harga naik kembali.

’’Keuntungan dari kenaikan itu ada tapi tidak banyak, karena petani menyimpan garamnya hampir satu musim. Tapi dengan kencenderungan naiknya harga garam ke depan, tidak sedikit yang menyimpan garam miliknya. Harapannya bisa mendapatkan harga garam yang jauh lebih baik daripada saat ini,’’ urainya.

Terkait data stok terbaru di tingkat petani, lanjut dia, diperkirakan masih tersisa sekitar 100-150 ribu ton. Perkiraan itu berdasarkan jumlah garam pada 2013 lalu yang total mencapai 2,3 juta dengan rincian sisa stok 1,1 juta dan produksi 2013 sebanyak 1,2 juta. Jika kebutuhan garam satu tahun sebanyak 1,4 juta ton, maka sisa stok sekitar 900 ton.

’’Kalau selama enam bulan membutuhkan sekitar 700 ribu ton, maka sisanya 200 ribu ton. Tapi kalau dipukul rata, perkiraan saya sisa stok sekitar Rp 100-150 ribu ton,’’ jelasnya.

Untuk awal panen yang berlangsung sejak Juni lalu belum merata ke semua daerah penghasil garam. Daerah yang sudah panen di antaranya Madura, Gresik, Pasuruan dan sebagian kecil di Surabaya. Diperkirakan panen baru merata pada akhir Juli. (wh)