Harga Daging Naik, Pasokan Sapi Lokal Minim

Harga Daging Naik, Pasokan Sapi Lokal Minim
Jagal sapi di Rumah Potong Hewan (RPH) Kedurus. avit hidayat/enciety.co

Dampak kenaikan harga daging sapi lokal di pasaran justru membuat jagal sapi kelimpungan. Pasalnya, saat kebutuhan konsumsi daging naik justru sapi lokal sulit dicari.

Dikatakan Ketua Paguyuban Pedagang Sapi dan Daging Segar (PPSDS) Jawa Timur Muthowif sapi lokal di Jawa Timur jumlahnya sangat minim. “Sekarang pelaku jagal sedang mengalami krisis sapi lokal,” katanya saat dihubungi enciety.co, Minggu (27/7/2014).

Pihaknya juga mengaku bahwa jumlah sapi lokal yang datang dari Probolinggo, Malang, dan Pasuruan tidak sebanding dengan angka permintaan konsumen yang meningkat 30 persen. “Kami menyayangkan sikap Pemerintah Jawa Timur yang masih mengekspor sapi bakalan ke luar daerah. Padahal kebutuhan daging di Jawa Timur juga tinggi,” sesalnya.

Kebijakan pemerintah terkait pengiriman sapi impor masuk ke Surabaya cenderung tidak optimal. Pasalnya sapi tidak langsung diimpor dari Australia namun justru transit melalui Lampung dan Probolinggo. “Harga sapi impor jadi lebih mahal dua kali lipat,” resahnya.

Hal ini berdampak pada menurunnya jumlah sapi yang dipotong oleh pelaku jagal sapi. Di hari-hari sebelum Lebaran, biasanya Muthorif mengaku dapat memotong hingga 2 sampai 3 ekor sapi per hari.

“Sekarang Cuma bisa memotong satu hingga satu setengah sapi saja per hari,” lesunya.

Dari data Badan Pusat Statistik pada Mei 2013 jumlah sapi di jawa timur memang mencapai 3,8 juta ekor sapi. Terdiri dari sapi jantan 1,140 juta ekor, dan sisanya 2,660 juta sapi betina.

Dari jumlah sapi jantan 1,14 juta ekor dibagi menjadi sapi anakan sekitar 399 ribu ekor, dan sapi siap potong 741 ribu ekor sapi.

Sedangkan 2,660 juta sapi betina dibagi menjadi atas sapi betina tua tidak bisa bunting 266 ribu ekor, sapi betina muda belum bisa bunting 266 ribu ekor, sapi betina bunting sekitar 1.064 juta ekor, dan sapi betina yg akan bisa bunting 1.064 juta ekor.

Padahal target Dinas peternakan Jatim yakni 1,150 juta anakan sapi yang lahir di tahun 2014. Maka dibutuhkan sapi indukan 1,380 juta ekor. Dengan demikian di jawa timur kekurangan sapi indukan produktif 316 ribu ekor.

“Dengan adanya beberapa indikasi tersebut, maka program Dinas Peternakan menargetkan melahirkan 1,150 anakan sapi di jawa timur tidak mungkin tercapai. Hal tersebut bisa kami buktikan melalui sensus atau pendataan yang lainnya oleh pihak yangg independen dan dari kalangan akademisi,” pungkasnya. (wh)