Harga Beras Indonesia Tertinggi di Asean

Harga Beras Indonesia Tertinggi di Asean

Harga beras yang dijual di Indonesia saat ini termasuk tertinggi di antara negara ASEAN lain. Hal ini dikhawatirkan menjadi ancaman bagi Indonesia terutama jelang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.

Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso menyebutkan harga beras yang dijual di Indonesia lebih 10 persen jika dibandingkan di negara ASEAN lain. “Harga beras kita di ASEAN termasuk yang tinggi. Jadi dampak kalau mereka masuk bebas, petani kita tidak bergairah untuk menanam pangan,” ujar di Jakarta.

Menurutnya, agar saat MEA berlangsung Indonesia tidak diserbu beras impor yang harganya lebih murah maka pemerintah harus bisa menjadi ketersediaan produksi beras dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan nasional.

“Antisipasinya seperti tahun 2008 dimana produksi harus cukup di dalam negeri. Supaya tidak ada barang masuk. Harga tinggi nggak apa-apa asal mencukupi. Makanya harus naikan produksi,” lanjut dia.

Meski demikian, dia mengingatkan beras impor tidak selama berkualitas baik. Indonesia sebenarnya telah mampu memproduksi beras berkualitas baik meski jumlahnya tidak terlalu besar. “Jangan juga berpikir bahwa semua beras luar negeri itu bagus. Semua sama saja karena kita juga bisa produksi beras bagus, tapi memang penggilingan kita kecil,” jelas dia.

Selain beras, harga komoditas lain yang diproduksi di Indonesia juga termasuk tinggi, seperti kedelai dan daging. “Kedelai kita juga jauh lebih tinggi dibanding di Amerika Serikat dan Brasilia, daging juga demikian. Untuk itu harus diselesiakan dengan kecukupan produksi,” tandasnya

Diterangkan Sutarto, Indonesia bisa terbebas dari impor beras pada tahun depan asalkan terjadi peningkatan produksi beras nasional minimal 4 persen.

Menurutnya, jika produktifitas beras nasional hanya berada di bawah 4 persen, maka stok beras yang dimiliki Bulog tidak akan mencapai 2 juta ton pada tahun depan. “Sampai September pun Bulog masih mampu melakukan pengadaan di atas 3 juta ton. Kalau produksi di bawah 4 persen, Bulog tidak akan mampu melakukan pengadaan di atas 2 juta ton,” ujarnya.

 

Dia menjelaskan, selama beberapa periode Indonesia pernah mengalami kondisi bebas dari impor beras. Namun hal tersebut lantaran produktifitas beras mengalami peningkatan sebesar 5 persen.

 

“Dari tahun 1994 sampai 2014, sebenarnya pemerintah pernah tidak impor yaitu pada 2008, 2009, 2013. Pada waktu itu terjadi peningkatan produksi di atas 5 persen karena pengadaan Bulog di atas 3 juta dan pemerintah tidak perlu impor,” lanjut dia.

Meski demikian, Bulog selalu dihadapkan dengan kondisi yang sulit untuk tetap memenuhi stok beras walaupun sampai saat ini Bulog masih mampu melakukan pengadaan di atas 2,3 juta ton meskipun produktifitas turun 0,9 persen.

 

“Seperti pada Januari-Februari itu masa paceklik, dan pada Maret lagi sudah masuk panen,” tandasnya. (lp6/ram)