Harga Bahan Pokok dan Sayur di Surabaya Naik

Harga Bahan Pokok dan Sayur di Surabaya Naik

Harga bahan pokok dan sayur di Surabaya naik. Menyebabkan beban warga Jatim Surabaya dipastikan bertambah. Ini menyusul naiknya harga-harga berbagai bahan pokok dan sayur mayur sejak Kamis (23/1/2014).

Rokidah, salah seorang warga, mengeluhkan kenaikan harga bahan pokok saat ia berbelanja kebutuhan pokok di Pasar Keputran, Surabaya. “Saya biasa berbelanja di pasar ini. Baru kemarin berbelanja, eh sekarang harganya kok naik,” katanya.

Rokidah membuka warung kecil di rumahnya yang menjual berbagai kebutuhan pokok. Dia lalu menyebutkan, harga cabai ukuran besar Rabu (22/1/2014), masih Rp 21.000 per kg. Namun Kamis harganya naik menjadi Rp 23 ribu per kg. Harga cabai merah ukuran kecil menjadi Rp 23 ribu per kg dari Rp 17 ribu per kg. Harga komoditas kentang sebelumnya Rp 7.500 per kg, sekarang Rp 9.000 per kg. Pun dengan harga bawang merah sebelumnya Rp 9.500 per kg, sekarang Rp 10.500 per kg.

Harga kemiri juga terkerek naik yang kini Rp 26.000 per kgdari Rp  24.000 per kg. Kenaikan harga komoditas kebutuhan pokok yang tak kalah mengejutkan adalah telur, dari Rp 18.000 per kg menjadi Rp 19.500 per kg.

“Tetapi kenaikan harga bahan pokok yang paling drastis adalah merica menjadi Rp 126.000 per kg. Padahal kemarin harganya masih Rp 105.000 per kg,” ujar Rokidah.

Ia mengaku telah menanyakan perihal sebab kenaikan harga bahan pokok itu. Namun, penjual hanya menjawab bahwa kenaikan harga sudah terjadi sejak si penjual tersebut mengambil bahan-bahan kebutuhan pokok itu.

Akibat naiknya harga-harga kebutuhan pokok, ia terpaksa harus menaikkan harga jual tiap bahan pokok yang telah dibelinya. Namun kenaikannya tidak banyak. “Maksimal hanya Rp 1.000 per kg. Saya tidak berani menaikkan harga lebih dari itu karena kasihan pelanggan saya bisa lari,” ujarnya.

Untuk itu, Rokidah berharap agar pemerintah segera bertindak untuk menurunkan harga berbagai komoditas penting itu.

M. Khomsul (44), seoarang pedagang sayur, mengakui harga wortel yang dijualnya naik. Harga wortel yang dipatoknya sebesar Rp 11.000 per kg, padahal kemarin masih Rp 9. 000 per kg.

“Wortel memang mahal. Tetapi kenaikan harganya bukan karena banjir melainkan sedang belum musim panen wortel,” ujarnya.

Wortel itu dipasoknya dari Batu, Malang, Jatim. Namun selain wortel, harga sayur mayur lainnya hari ini relatif mengalami penurunan dibandingkan kemarin.

Dia menyebutkan harga sawi putih Rp 4.000 per kg. Harga itu turun dibandingkan kemarin yang masih Rp 7.000 per kg. Sayur lainnya seperti seledri kini dibanderol sebesar Rp 15.000 per kg. Padahal sebelumnya masih Rp 25.000 per kg.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) Surabaya Widodo Suryantoro mengakui, harga bahan pokok maupun sayur mayur di tingkat distributor dan agen Surabaya yang resmi (tercatat di Disperdagin)  mengalami kenaikan. “Namun prosentase kenaikan harga hanya di kisaran 3 persen. Jadi masih wajar,” ujarnya.

Apalagi, sambung dia, pasokan bahan pokok maupun sayur mayur ke Surabaya 100 persen berasal dari daerah-daerah di Jatim yang notabene tidak terkena banjir seperti Malang, Mojokerto, Pasuruan, dan Lumajang.

Namun demikian, Disperdagin memastikan akan melakukan tindakan jika kenaikan harga bahan pokok lebih dari 5 persen dibandingkan biasanya. Ada tiga langkah yang akan dilakukan Disperdagin. Pertama, pihaknya mengumpulkan distributor bahan pokok maupun sayur mayur untuk berbicara mengenai ketersediaan pasokan sama.

“Kami akan mengecek apakah pasokan bahan pokok mengalami penurunan atau ada yang tidak wajar. Kalau mengalami penurunan, kami minta supaya mereka (distributor) menormalkan pasokan,” tutur Widodo.

Langkah kedua, pihaknya akan melakukan operasi pasar di gudang untuk mengecek ada penimbunan atau praktek kartel. Langkah ketiga, Disperdagin melakukan peninjauan pasar.“Kalau ada penyimpangan, kami tidak segan-segan menindak,” ujar Widodo.

Mengenai persediaan bahan pokok maupun sayur mayur juga diklaimnya mencukupi dua hingga tiga bulan ke depan.(wh)