Harga Anjlok, Petani Garam Menjerit

Harga Anjlok, Petani Garam Menjerit
foto: umar alif/enciety.co

Petani garam di Kecamatan Pakal, Benowo , Surabaya menjerit dengan semakin terpuruknya harga produksi mereka. Sebelumnya, harga garam dijual dari Rp 600 –750 persaknya. Kini harganya turun hanya Rp 400 per sak.

Badri, salah seorang petani garam Pakal kepada enciety.co, membenarkan bila harga garam kini turun. Menurut pria paro baya ini, harga garam turun akibat cuaca yang baik dan mendukung produksi garam berlebih.

“Cuaca cerah maka garam terus bisa berproduksi. Namun harganya yang semakin turun membuat kami kelimpungan,” kata Badri, Rabu (19/8/2015).

Petani garam yang memiliki lahan di seberang Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya ini berharap agar harga produksi dapat kembali seperti sediakala.

Dengan harga kembali normal seperti dulu, maka kehidupan keluarganya akan dapat semakin membaik kembali. “Yang kami bisa cuma menambak garam saja. Ndak punya lagi keahlian yang lain,” ujar Badri.

Harga yang turun ini juga membuatnya menurunkan jumlah pegawai yang ikut kerja kepadanya. Biasanya, dirinya mengajak tetangganya di desa yang berada di Madura untuk turut bekerja padanya.

“Kalau tidak dikurangi jumlah pekerja maka kami tidak dapat uang walau panen berlimpah,” papar dia. (wh)