Hanya 1.730 orang, Jatim Kekurangan Apoteker

Hanya 1.730 orang, Jatim Kekurangan Apoteker

 

Kekurangan tenaga kesehatan ternyata juga menimpa provinsi Jawa Timur. Sebanyak 2.128 tenaga apoteker dibutuhkan untuk mengisi kekurangan tenaga di rumah sakit dan puskesmas milik pemprov Jatim. Sampai saat ini, tenaga apoteker yang bertugas hanya sebesar 1.730 orang. Ini jauh di bawah angka ideal yang seharusnya sejumlah 3.858 apoteker.

Minimnya tenaga apoteker itu disebabkan belum banyaknya pemerintah kabupaten/kota yang menerima tenaga apoteker sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di rumah sakit dan puskesmas di Jatim. Akibatnya, posisi tenaga apoteker menjadi minim.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim, dr Harsono mengatakan jumlah apoteker yang dibutuhkan tersebut untuk melayani 38 juta jiwa penduduk di Jawa Timur. “Kekurangan tenaga apoteker masih sangat besar. Jumlah itu untuk di sebarkan di Jatim, terutama di daerah-daerah yang terpencil,” ungkapnya, Kamis (6/3/2014).

Harsono menjelaskan, rasio kebutuhan apoteker idealnya diseimbangkan dengan jumlah penduduk yang berada di suatu wilayah. Seharusnya, rasionya ialah 100.000:10. Artinya, 100.000 penduduk Jatim mustinya dilayani oleh 10 tenaga apoteker. “Sampai sekarang masih belum tercapai. Padahal keberadaan apoteker sangat vital dan urgent,” ujarnya. 

Dampak yang paling vital akibat kekurangan apoteker, lanjut Harsono, dapat mengakibatkan penyalahgunaan obat-obatan. Ditambah lagi, pada tahun 2014 ini pencanangan JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) sudah mulai berjalan di beberapa daerah. “Ini yang harus dihindari, tenaga apoteker hanya berkumpul di pusat kota. Hingga daerah terpencil kekurangan,” keluhnya.

Kondisi ini juga dialami para dokter yang hanya terpusat di kota dan daerah padat penduduk saja. Ini menimbulkan permasalahan baru terkait pentingnya apoteker di daerah terpencil yang masih kurang. “Dengan meratanya tenaga dokter dan apoteker di daerah, Jatim bisa menjadi pelopor kesehatan nasional,” cetusnya. (wh)