Hadapi MEA, Risma Minta Pengusaha Punya Entrepreneur Leadership

Hadapi MEA, Risma Minta Pengusaha Punya Enterpreneur Leadership
Wali Kota Tri Rismaharini saat menjadi pembicara dalam Seminar Hipmi Kota Surabayadi Gedung Sawunggaling Kota Surabaya, Jumat (26/6/2015). Arya wiraraja/enciety.co

Dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada akhir 2015, Kota Surabaya harus menjadi kotanya enterpreneur.

“Untuk bersaing dalam MEA kita telah mempersiapkan diri dengan memberikan bekal kewirausahaan kepada masyarakat, kita harus menjadi produsen dan bukan konsumen,” ujar Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini,  saat menjadi pembicara dalam Seminar Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kota Surabaya bertajuk “Peran Hipmi dalam menyongsong MEA 2015, di Gedung Sawunggaling Kota Surabaya, Jumat (26/6/2015).

Dirinya melanjutkan, sebagai bagian dari masyarakat ekonomi Asean, untuk mencapai kemakmuran dalam suatu kawasan yang di sebut Asean. “Untuk bertahan menghadapi MEA, seorang enterpreneur harus memiliki jiwa leadership yang kreatif, berani dan teguh,” imbuh dia.

Ia optimis dengan kekuatan populasi penduduk sebesar tiga juta jiwa yang di miliki oleh warga Kota Surabaya.

“Rakyat Surabaya memiliki peluang yang besar untuk sukses dalam menghadapi MEA. Salah satu caranya adalah dapat menciptakan produk yang kreatif,” terangnya.

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya terus berkomitmen untuk mencetak enterpreneur muda. “Banyak program Pemkot yang dapat di manfaatkan,” bebernya.

Risma secara tegas mengatakan kekuatan terbesar dalam menghadapi MEA adalah prinsip keteguhan, kreativitas dan tidak malu untuk menjadi seorang pedagang.

“Ketika kita masih muda, jangan malu untuk memulai menjadi seorang pedagang,” terangnya.

Sementara itu, Ketua DPC Hipmi Surabaya Abdul Ghofur menegaskan MEA adalah sesuatu yang positif. “Diperkirakan perputaran uang saat MEA berlangsung sekitar tiga triliun dolar Amerika pertahun, angka tersebut setara dengan empat puluh ribu triliun rupiah,” ungkapnya.

Dirinya sangat sepakat dengan apa yang dikatakan Risma. MEA adalah bentuk pemerataan perputaran uang di Asia tenggara (Asean). Sedangkan Negara Indonesia merupakan negara terbesar di ASEAN.

“MEA bukanlah sebuah mimpi buruk bagi pengusaha-pengusaha yang ada di dalam Negeri, Sebaliknya, MEA adalah suatu peluang yang sangat besar. Untuk mempersiapkan hal tersebut kita harus memiliki jiwa enterpreneur leadership,” jelas dia. (wh)