Hadapi MEA 2015, Nilai Ekspor Jatim Kian Menguat

Hadapi MEA 2015, Nilai Ekspor Jatim Kian Menguat
Ketua GAPMMI Jatim Yapto Willy Sinatra dan General Manager EBC Don Rozano.

Jelang pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015, nilai ekspor di Jatim kian menguat. Ini dibuktikan pada lalu saja, nilai ekspor non-oil gas industry Jawa Timur jenis food and beverages meningkat menjadi USD 5,3 miliar dari sebelumnya pada 2012 yang hanya USD 4,6 miliar.

“Di satu sisi nilai impor kita mengalami penurunan. Pada 2012 lalu, kebutuhan impor non-oil gas industry jenis food and beverages mencapai USD 6,1 miliar. Namun pada tahun lalu menunjukan tren menurun hingga USD 5,8 miliar saja,” beber General Manager Enciety Business and Consult (EBC) Don Rozano dalam Perspective Dialogue di Radio Suara Surabaya, Jumat (12/9/2014).

Menurut Don, nilai ekspor kita memiliki kecenderungan akan menyalip nilai impor Jatim yang kini hanya USD 5,8 miliar saja. Nilai ekspor akan jauh bisa melampau nilai impor jika Jatim siap menghadapai MEA 2015. Ini karena, diperkirakan pada 2015-2016 ada peningkatan daya beli masyarakat hingga mencapai USD 6 ribu. “Artinya masyarakat akan berlari dan menyasar barang-barang impor, kita harus siasati itu,” terangnya.

“Ini kemudian akan berimbas pada pelaku industri menengah dan mikro. Terlebih menjelang dibukanya kran pasar bebas di MEA 2015 mendatang, para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) menjadi ujung tombak Jatim di tengah-tengah pasar ekonomi ASEAN,” imbuh Don.

Meski begitu, terang Don, para pelaku usaha juga membutuhkan peran pemerintah untuk menjembatani. “Kita contohkan seperti halnya di Surabaya yang membuka rumah bahasa. Ada listerasi berbagai bahasa termasuk bahasa inggris dan mandarin di sana. Ini kemudian membantu UMKM agar mengetahui pasar yang sebenarnya. Karena tugas kita adalah membuka jendela, pandora untuk UMKM,” ungkapnya.

Keberadaan UMKM di tengah-tengah pasar bebas ASEAN itu juga akan menentukan Jawa Timur apakah nantinya menjadi tuan rumah atau hanya menjadi penonton saja.

“Kita akan memasuki era yang belum kita bayangkan sebelumnya. Akan banyak produk masuk dari berbagai negara. Nantinya yang bermain hampir 90 persennya industri level mikro. Sisanya usaha menengah hingga industri besar. Jadi kita harus jadi pelaku bukan penonton saja,” katanya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Jatim Yapto Willy Sinatra menambahkan, peluang Jatim untuk bisa bersaing di MEA 2015 sangat lebar.

Dari catatannya, jumlah industri makanan dan minuman di Jawa Timur lebih didominasi industri mikro yang mencapai 922,9 ribu unit usaha. “Sedangkan industri menengah hingga besar hanya 5,8 ribu unit dan untuk industri kecil mencapai 73,3 ribu unit usaha,” ujarnya.

Artinya, GAPMMI mengaku lebih siap menghadapi MEA 2015. Hanya saja menurutnya, pelaku usaha mikro butuh keberpihakan dari pemerintah atau asosiasi untuk mengajak tumbuh bersama.

“Tingkat produksi kita saat ini sedang bergairah.Seperti halnya industri mikro kita di malang itu saat ini berkembang pesat. Contohnya kripik olahan malang kini sudah impor ke banyak negara,” imbuhnya.

Meski begitu, Yapto juga tetap mengimbau kepada para pelaku industri menengah ke atas agar tetap memikirkan pasar. Artinya, meski brand produknya sudah kuat tapi kalau harganya tidak bersaing akan kalah juga dengan produk impor.

“Contohnya terigu naik setiap bulan. Perusahaan tersebut tidak memikirkan konsumen. Harusnya mereka (harganya) juga ikut bersaing. Akhirnya konsumen akan berlari ke barang-barang impor,” pungkasnya. (wh)