Hadapi AFTA, UMKM Jatim Distandardisasi

Hadapi AFTA, UMKM Jatim Distandardisasi

Pemprov Jatim terus berupaya memperkuat standarisasi produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) guna menghadapi ASEAN Free Trade Agreement (AFTA) 2015.

Menurut Gubernur Jatim Soekarwo melalui standardisasi mutu produk, UMKM akan mampu bersaing di pasar bebas. Dengan langkah ini, dipastikan devisit neraca perdagangan Jatim akan berkurang. Karena dalam beberapa tahun terakhir, Jatim masih mengalami defisit neraca perdagangan dengan luar negeri.

Di tahun 2013, devisit neraca perdagangan Jatim dengan luar negeri mencapai Rp 17 triliun. Tetapi dengan besarnya realisasi perdagangan antar pulau, akhirnya devisit tersebut bisa tertutupi. Realisasi perdagangan antar pulai Jatim mencapai Rp 346 triliun, sementara impor antar daerah mencapai Rp 276, surplus 70 triliun.

“Jika pada tahun 2013 Jatim telah mengusai 31 persen pasar dalam negeri, di tahun 2017 saya yakin bisa menguasai 50 persen pasar domestik. Dan realisasi perdagangan antar pulau tersebut, UMKM adalah yang berkontribusi paling besar, mencapai 70 persen. Ini menunjukkan, UMKM telah menjadi pilar perekonomian Jatim. Terlebih jika standarisasi produk dilakukan dengan maksimal,” tegasnya.

Terkait standarisasi produk impor, Jatim akan berguru ke Jerman dan Korea Selatan, bagaimana mereka bisa membentengi negaranya dari gempuran produk impor. “Akan ada tim dari pemprov Jatim dipimpin Wagub belajar ke Jerman dan Korsel,” ujarnya.(wh)