Gus Mus Kembali Ditetapkan Sebagai Rois Aam PBNU

Tunggu Pelantikan Presiden, Munas NU Diundur

Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatul Thalibin, Rembang, Jateng, KH A Musthofa Bisri alias Gus Mus akhirnya terpilih sebagai Rais Aam (Syuriah) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khitmad 2015-2020. Penunjukkan Gus Mus   dilakukan dalam rapat tertutup yang dilakukan sembilan orang ulama anggota tim formatur Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA), Rabu (5/8/2015) malam.

Sidang pleno yang dipimpin Prof Dr Ahmad Muzakki itu juga menetapkan KH Makruf Amin sebagai Wakil Rais Aam. Kesembilan tim formatur AHWA hasil kesepakatan para ulama itu sendiri terdiri dari KH Makruf Amin, KH Nawawi Abdul Jalil, TGH Thurmuzi, KH Dimyati Rois, KH Syah Ali Akbar Marbun, KH Maimoen Zubair, KH Mas Subadar, KH Kholil Rahman, dan KH Maktun Hannah.

Dalam surat keputusan yang ditandatangani sembilan ulama AHWA yang dibacakan Ketua Panitia Daerah, Syaifullah Yusuf itu juga memberikan penetapan cadangan terkait kemungkinan Gus Mus menolak menerima amanah yang diberikan tim formatur AHWA, maka disebutkan bahwa Makruf Amin ditunjuk sebagai Rais Aam.

Sidang pleno penetapan Gus Mus yang sudah diprediksi jauh hari sebelum muktamar itu sendiri digelar, dihadiri hanya sedikit syuriah PCNU dan PWNU serta para ulama non struktural.

Pada mekanisme pemilihan dengan sistem Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA), sosok Gus Mus merupakan representasi dari muktamirin yang sejak semula mendukung mekanisme pemilihan secara musyawarah mufakat (AHWA) melalui perwakilan sembilan ulama yang dipilih dari 32 orang ulama yang sejak awal disisipkan di antara formulir registrasi di awal pendaftaran sebagai peserta muktamar (muktamirin).

Dari 508 orang syuriah yang mewakili PCNU dan PWNU se-Indonesia, 380 di antaranya sudah menyerahkan sembilan nama calon. Kesembilan calon tim formatur itu yakni, KH Makruf Amin (asal DKI Jakarta memperoleh dukungan 333 suara), KH Nawawi Abdul Jalil (Sidogiri, Pasuruan, Jatim, 302), TGH Turmudzi Badrudin (NTB, 298), KH Kholilullrahman (Kalsel, 273), KH Dimyati Rois (Jateng, 236), KH Syah Ali Akbar Marbun (Sumatera Utara, 186), KH Maktum Hanan (Jawa Barat, 162), KH Maemun Zubaer (Jawa Tengah, 156), KH Mas Subadar dari Pasuruan, Jatim meraih dukungan 135 suara.

Seperti diduga sebelumnya, kandidat rais aam yang didukung kelompok pro anggaran dasar-anggaran rumah tangga (AD/ART), yakni KH A Hasyim Muzadi, harus rela “melepas” asanya karena melalui sistem AHWA, sudah dapat dipastikan sembilan ulama tersebut akan memilih incumbent Plt Rais Aam PBNU  Gus Mus.

Sementara itu, ratusan rais syuriah dan tanfidziyah PCNU dan PWNU serta PCINU yang menolak AHWA (pro AD/ART) dan lebih memilih mengikuti istighotzah di Ponpes Tebuireng, Diwek, semalam, secara terang-terangan menolak menghadiri sidang pleno di bawah tenda utama di alun-alun Jombang. Mereka juga menggagas bakal mengajukan gugatan ke pengadilan atas proses pemilihan rais aam Muktamar ke-33 NU guna mendapatkan rasa keadilan karena merasa dipecudangi dalam muktamar yang dinilai sarat rekayasa dan kecurangan serta melanggar AD/ART. (ant/bst)