Guru Baru Bakal Ditempatkan di Luar Pulau

Guru Baru Bakal Ditempatkan di Luar Pulau
Foto: umar alif/enciety.co

Tahun 2015 ini, bagi sarjana lulusan perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia akan menjadi pengajar untuk memenuhi kebutuhan guru produktif, terutama Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Jatim dan luar pulau.

Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Prof. Ekohariadi mengatakan program tersebut berdasarkan aturan yang dikeluarkan oleh Direktorat Pembinaan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Menengah (Pembinaan PTK) Dirjen Pendidikan Menengah Kemdikbud.

“Tujuannya untuk memberdayakan sarjana. Dan ada 11 Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang digandeng di seluruh Indonesia. Setiap LPTK kuotanya mencapai 50 sarjana. Berarti ada 550 sarjana yang akan diberangkatkan untuk program sarjana mengajar,” kata Prof Ekohariadi kepada wartawan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Rabu (29/7/2015).

Program yang dulunya bernama talentscouting ini nantinya para sarjana tersebut akan diberangkatkan pada bulan Juli 2015 ini dan akan berakhir Juni 2016. Kampus Unesa sendiri mendapat kuota 50 sarjana guna memenuhi tenaga pengajar untuk Jatim yang disebar di 36 kabupaten, Nunukan, Halmahera Barat dan Halmahera Tengah.

Ia menjelaskan, bagi sarjana yang diplot untuk wilayah Jatim, nantinya mereka akan diminta mencari SMK sendiri yang akan dijadikan tempat mengajar. Yang di Nunukan, Halmahera Barat dan Halmahera Tengah akan diantar.

Program ini sendiri akan dilakukan selama setahun penuh dan bertambah 6 bulan dari tahun lalu yang hanya melaksanakan program selama 6 bula saja. Hal tersebut berdasarkan banyak peserta yang sudah purna mengabdi mengusulkan supaya lamanya waktu ditambah menjadi 12 bulan.

Samsudin adalah salah seorang diantaranya. Sarjana lulusan Fakultas Teknik, Prodi Teknik Elektro, Unesa ini diplot mengajar di SMKN 1 Halhamera Barat, Maluku. “Untuk gaji yang diterima dari program sarjana mengajar ini sama dengan yang didapat dari SM3T, Rp2,5 juta per bulan,” kata sarjana asal Desa Mojomati, Kecamatan Jetis, Ponorogo, Jatim ini.

Meski demikian, bungsu dari dua saudara anak pasangan Alm. Samidi dan Prapti ini tidak menyoal besaran imbalan yang didapat. “Prinsipnya punya pengalaman mengajar. Banyak sarjana yang tidak bisa mengajar. Dan harapannya peserta program ini bisa diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS) melalui jalur khusus. Ada semacam dispensasi,” tandasnya. (wh)