Gunakan Air Sungai, Dinkes Surabaya Bakal Tutup Produsen Tempe

Gunakan Air Sungai, Dinkes Surabaya Bakal Tutup Produsen Tempe
Tempat produksi tempe di Tenggilis Lama Surabaya yang menggunakan air sungai untuk mengolah dan memasak kedelai.

Temuan enciety.co terkait adanya tindakan berbahaya yang dilakukan oleh sejumlah produsen tempe di Tenggilis Lama III, Surabaya langsung direspon Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya.

Ditemui di kantornya, Rabu (11/3/2015) siang, Kepala Dinkes Kota Surabaya, drg. Febria Rachmanita menegaskan akan segera menelisik dan memberi peringatan keras kepada produsen tempe yang terbukti mengolah tempe menggunakan air sungai.

“Temuan ini akan kami tindak-lanjuti dengan menerjunkan tim untuk mengecek secara langsung tempat produksi tempe tersebut. Jika benar terbukti melanggar ketentuan tentang kesehatan, maka kami langsung akan berikan surat peringatan,” tegas Febria di lantornya Jalan Jemursari, Surabaya.

Jika pada peringatan pertama nantinya produsen tempe tersebut tetap tak mengindahkan, Febria berjanji akan kembali memberi peringatan hingga tiga kali. Jika tetap saja produsen tempe nakal tersebut bergeming, maka sesuai dengan standard operating procedure (SOP), Dinkes Surabaya tidak segan-segan menutup tempat produksi tempe tersebut.

“Dulu kita juga pernah menemukan hal yang sama. Kami pernah menemukan sekali produsen tahu yang menggunakan limbah air sungai untuk digunakan memasak tahu. Jadi mereka juga mengambil air dari sungai, lalu limbah tahu dibuang di sungai kembali jadi sangat tercemar dan berbahaya bagi kesehatan konsumen dan masyarakat,” beber dia.

Dari temuan tersebut, kata Febria, Dinkes langsung memberikan surat peringatan keras. Tidak lama kemudian, pabrik tahu yang tidak mengantongi izin usaha tersebut ditutup oleh pengusahanya sendiri, sebelum Pemkot Surabaya melakukan tindakan penyegelan.

“Jadi kita ada aturannya, dan menganjurkan agar produsen tempe dan tahu untuk menggunakan air PDAM sebagai media untuk proses memasak. Meski air PDAM diambil dari sungai Jagir, tapi itu sudah melalui berbagai filterisasi dan setiap tahun kami selalu melakukan pemeriksaan terkait baku mutu air PDAM,” ungkapnya.

Namun,imbuh Febria, jika produsen tempe menggunakan air sungai yang tercemar berbagai limbah rumah tangga maka dikhawatirkan akan berdampak serius pada kesehatan konsumennya. Diakuinya ada banyak sekali bakteri di dalam sungai terlebih sudah tercampur dengan berbagai kotoran, sampah, pampers, air bekas cuci, masak, dan mandi warga Surabaya.

“Memang perlu diuji di laboratorium untuk melihat ada bakteri apa saja di dalam air sungai tersebut. Meski begitu, secara kasat mata kita sudah bisa melihat bahwa air kali Surabaya tidak dapat secara langsung digunakan untuk memasak dan lain sebagainya,” tambahnya.

Seperti diberitakan, sedikitnya 12 pengusaha di kawasan Tenggilis Lama III Surabaya bertindak ceroboh dengan memasak kedelai menggunakan air sungai di Tenggilis Mejoyo. Setiap hari mereka memproduksi tempe hingga 1 sampai 2 ton tempe yang dipasarkan di sejumlah pasar tradisional di Surabaya dengan harga yang lebih terjangkau. (wh)