Gubernur Surati SBY karena Gula Jatim Tak Laku

Gubernur Surati SBY karena Gula Jatim Tak Laku

Gula lokal asal Jawa Timur tak laku. Ini disebabkan masuknya gula rafinasi ke pasar tanah air, khususnya ke wilayah Indonesia Timur. Pemprov Jatim memperkirakan ada 650.000 ton gula yang masih berada di gudang dan belum terserap pasar.

Kondisi tersebut membuat Gubernur Jatim Soekarwo menyurati Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Kami secara resmi berkirim surat ke Presiden soal kondisi industri gula di Jawa Timur. Surat juga ditembuskan ke Kementerian Perdagangan, Kementerian Perindustrian, Kementerian Pertanian dan DPR RI. Salah satu pesan pokok dalam surat itu meminta solusi terhadap belum terserapnya gula petani,” ujar Soekarwo, Kamis (10/4/2014)

Ia mengatakan, berdasar aspirasi petani tebu maka persoalan gula di gudang harus dicarikan solusi. Pasalnya, musim giling akan dimulai Mei mendatang. “Gula banyak yang nganggur di gudang karena tak terserap pasar di luar daerah, di sana ada gula rafinasi. Kalau tidak ada solusi harga gula akan jatuh lagi,” ungkpanya.

Selain soal melimpahnya stok gula, Soekarwo meminta pemerintah pusat menetapkan rendemen 10-12 persen pada musim giling 2014, harga pokok penjualan Rp 9.500/kg, memperketat masuknya gula rafinasi dan menjamin dana talangan bila harga gula di bawah harga pokok penjualan.

“Pemerintah harus melindungi produksi dalam negeri, khususnya memperjuangkan nasib petani tebu dari ancaman gula dari luar negeri,” tandas Gubernur Jatim. 

Khusus gula rafinasi yang masuk di Jatim, lanjut Karwo, pihaknya akan melakukan operasi bersama Polda Jatim. Sedangkan terkait keputusan melempar produk Jatim ke luar Jatim bukan otoritas gubernur, sehingga kebijakan mengenai hal ini perlu disampaikan kepada Presiden.

Mengenai rendemen, gubernur menjelaskan bahwa pemprov, Komisi B DPRD Jatim bersama tim yang telah dibentuk harus turun menegakkan Peraturan Daerah. Pihak terkait harus bersama-sama mengecek mengapa rendemen bisa sampai 7 persen. “Secara rata-rata berdasarkan Dinas Perkebunan Provinisi Jatim, rendemen mencapai 7,9 persen,” tegasnya.

Ketua Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia Arum Sabil menilai, melimpahnya gula rafinasi membuat gula produksi lokal tak terserap. Terlebih harga gula di pasaran tahun lalu di kisaran Rp 8.000 sedangkan harga pokok produksi Rp 11.000. “Harga pembelian di bawah harga produksi bisa juga berulang tahun ini, sehingga banyaknya gula akan jadi petaka petani,” tegasnya.

Arus lalu menjelaskan produksi gula di Jatim tahun lalu 1,2 juta ton dan 450.000 diserap pasar domestik serta sisanya dijual ke luar daerah. Namun, sampai April ada sekitar 650.000 ton gula dari Jatim yang belum terserap pasar, salah satu faktornya banyak gula rafinasi beredar. (kmf/wh)