Gubernur BI: Rupiah Masih Rawan Guncangan

Gubernur BI: Rupiah Masih Rawan Guncangan
Ilustrasi pecahan rupiah. sumber foto: gotraffic.net

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menyatakan, hingga kini posisi nilai tukar rupiah belum aman dan masih rawan terkena dampak akibat guncangan ekonomi global. Di antaranya karena penguasaan asing terhadap surat berharga negara (SBN) yang besar serta porsi utang luar negeri (ULN) swasta yang semakin dominan.

“(Dengan kondisi ini), rupiah akan mudah terguncang bila terjadi sesuatu yang menyebabkam sudden reversal (pelarian tiba-tiba) dana,” ujar Agus saat menjadi pembicara kunci pada acara peluncuran Laporan Perekonomian Indobesia 2014 dan diskusi dengan tema Memperkokoh Stabilitas, Mempercepat Reformasi Struktural untuk Memperkuat Fundamental Ekonomi di Gedung BI, Jakarta, Rabu (29/4).

Agus memaparkan, saat ini sekitar 38,8 persen SBN yang diterbitkan dimiliki oleh asing, sementara di negara seperti Thailand, asing hanya memiliki sekitar 18,2 persen. Potensi tekanan terhadap rupiah, kata dia, juga datang akibat porsi utang luar negeri swasta yang terus meningkat semakin dominan. “Masalahnya, terhadap sebagian besar utang ini tidak dilakukan lindung nilai,” tambah dia.

Menurut BI, sebagai upaya untuk mengurangi risiko yang timbul dari fluktuasi kurs Rupiah, melakukan transaksi lindung nilai (hedging) menjadi sebuah tuntutan di tengah tantangan ekonomi global yang tak menentu.

Publikasi BI menyebutkan, dari posisi ULN pada akhir Februari 2015 yang tercatat sebesar USD 298,9 miliar, ULN sektor publik sebesar USD 134,8 miliar (45,1 persen dari total ULN), sedangkan ULN sektor swasta sebesar USD 164,1 miliar (54,9 persen dari total ULN).

Di sektor swasta, posisi ULN pada akhir Februari 2015 terutama terkonsentrasi pada sektor keuangan, industri pengolahan, pertambangan, serta listrik, gas, dan air bersih. Pangsa ULN keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta masing-masing sebesar 29,4 persen, 20,0 persen, 16,1 persen, dan 11,7 persen. (bst)