Gubernur BI : PT Pertamina Punya Beban Berat

Gubernur BI : Pertamina Punya Beban BeratGubernur Bank Indonesia (BI) Agus DW Martowardojo mengatakan, penyesuaian kenaikan harga elpiji sebesar Rp 1.000 per kilogram (kg) menyisakan beban cukup berat bagi PT Pertamina (Persero).

Sebab salah satu pertimbangan Pertamina menaikkan harga elpiji nonsubsidi. karena secara operasional ada kerugian yang ditanggung perusahaan itu.

“Kalau sekarang kenaikannya disesuaikan menjadi Rp 1.000 rupiah per kg, tentu secara perhitungan ada kerugian yang dibebankan ke Pertamina. Jadi, ada yang ditanggung PT Pertamina. Tentu ini tidak ideal,” kata Agus sebelum menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Selasa (7/1/2013).

Dia mengatakan, Pertamina seharusnya menjelaskan kepada masyarakat mengenai kerugian yang dialami perusahaan itu. Berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), kerugian Pertamina dalam penjualan elpiji sebesar Rp 7,73 triliun.

Oleh sebab itu, BPK merekomendasikan Pertamina menaikkan harga elpiji nonsubsidi 12 kg sebesar Rp 3.959 per kg. Namun kenaikan itu ditentang masyarakat sehingga Presiden SBY turun tangan dan meminta Pertamina meninjau kembali kenaikan itu.

“Perlu ada penjelasan sehingga masyarakat tahu. Kalau bisa tidak dinaikkan lagi harganya. Itu baik. Tapi kalau seandainya Pertamina terus beroperasi dgn kondisi rugi, tentu harus ada penyesuaian harga,” jelas Agus.

Dia mengatakan, PT Pertamina seharusnya beroperasi tanpa menyisakan kerugian. Apalagi, sampai saat ini masih ada yang diimpor, maka perlu disinkronisasi.

“Saya rasa itu terlalu berat. Ini adalah kondisi masih impor dan perlu dijual dengan tidak menyisakan kerugian.  Tentu nanti PT Pertamina bisa jelaskan ke publik tentang harga pokok dan harga distribusinya, dbandingkan dengan harga yang ditawarkan kepada masyarakat sehingga segala sesuatunya menjadi jelas,” kata Agus. (investor/bh)