Guardiola: Suara ”Tuhan” di Ruang Ganti Bayern

Guardiola: Suara ”Tuhan” di Ruang Ganti Bayern

 

Ada kepala akan menggelinding! Itulah ancaman Pep Guardiola kepada ”pengkhianat” di ruang ganti Bayern Muenchen. Ia meradang karena ada yang membocorkan taktiknya menjelang laga krusial Bundesliga melawan Borussia Dortmund pada 23 November 2013.

Taktik Guardiola dimuat di harian Jerman, Bild. Ia pun harus mengubah strategi yang mengantar Bayern menang 3-0 atas Dortmund.

Pengganti Jupp Heynckes itu menghadapi ujian pertamanya, pembangkangan pemain. Benih perpecahan ini bisa membuat dirinya kehilangan kendali ruang ganti klub berjuluk FC Hollywood yang bertaburkan bintang itu. Ia merespons pembangkangan itu dengan tegas. Pengkhianat akan keluar dari skuad Bayern.

Guardiola tidak mau berakhir seperti Jose Mourinho saat meninggalkan Santiago Bernabeu setelah gagal menguasai ruang ganti. Mourinho lalu pindah ke London untuk melatih Chelsea karena kehilangan cinta di ruang ganti Real Madrid.

Ujian Guardiola berlanjut. Ia berselisih dengan Toni Kroos dan Mario Mandzukic yang menolak rotasi pemain. Kroos melempar sarung tangannya karena diganti pada menit ke-60 saat melawan Stuttgart Januari 2014. Mandzukic menolak bersalaman dengan Guardiola karena sering tidak bermain 90 menit.

”Saya dibawa ke sini untuk mengambil keputusan. Anda berhak marah, tetapi tidak di depan umum untuk dilihat semua orang,” kata Guardiola.

Pelatih yang mempersembahkan 14 trofi selama empat musim di Barcelona itu didukung manajemen klub. Ketua klub Karl-Heinz Rummenigge akan menjual pemain yang tidak disiplin atau membocorkan rahasia ruang ganti Bayern.

Benturan ego sudah diprediksi akan menjadi tantangan terberat Guardiola. Para pemain Bayern dalam kepercayaan diri tinggi setelah meraih treble atau tiga gelar juara dalam semusim, yakni Liga Champions, Bundesliga, dan Piala Jerman.

Tim ini juga dihuni para pemain kelas dunia, di antaranya Franck Ribery, Arjen Robben, Bastian Schweinsteiger, Thomas Mueller, dan Philipp Lahm. Mereka pemain-pemain panutan di Bayern. Treble bisa mengubah mental pemain menjadi terlalu percaya diri dan sulit dikendalikan.

Akan tetapi, Guardiola mampu memenangi pertarungan itu. Pelatih berusia 43 tahun tersebut sebenarnya sudah memenangi hati Bayern sejak konferensi pers pertama, 24 Juni 2013. Ia merebut simpati saat menyampaikan pernyataan pers dalam bahasa Jerman yang mengalir.

Ia kemudian memegang komitmen dari Lahm, sang kapten tim. Bek kanan tim nasional Jerman itu menjalankan tugas barunya sebagai gelandang bertahan tunggal dalam formasi 4-1-4-1, tanpa protes. Lahm cemerlang.

Komitmen Lahm menjalankan posisi seperti Sergio Busquets di Barcelona itu memuluskan perubahan formasi dari 4-2-3-1 racikan Heynckes ke 4-1-4-1 yang lebih fleksibel dalam transisi menyerang dan bertahan.

Guardiola yang eks pemain Barcelona, Brescia, dan AS Roma ini tidak merombak total gaya permainan Bayern. Ia mempertahankan karakter permainan sayap Bayern dan memperkaya alur serangan dari sisi tengah. Arjen Robben dan Franck Ribery mendapat porsi ideal untuk memaksimalkan sisi lebar lapangan. Robben juga bersedia menjadi gelandang serang.

Para pemain kunci Bayern itu menjalankan perannya dengan profesional. Sikap ini sebenarnya warisan pelatih Jupp Heynckes yang meredam ego para pemain bintang Bayern sejak 2011 hingga meraih treble musim lalu.

”Kami memiliki 22 hingga 23 pemain profesional. Semua mampu bermain di tim utama dan semuanya menanggalkan kepentingan pribadi. Tidak seorang pun dari mereka yang merasa tersingkir atau kecewa atau menolak apa yang saya putuskan. Dan, saat memiliki pemain dengan kecakapan setinggi itu, luar biasa,” ujar Heynckes.

Spirit inilah yang kembali mengantar Bayern juara Bundesliga musim ini. Bayern unggul 25 poin atas Dortmund di peringkat kedua. Selisih poin ini tidak mungkin terkejar dengan tujuh laga sisa.

”Kami juara berkat kerja keras. Dan, saat Anda melihat apa yang Jupp Heynckes raih musim lalu, ini hanya satu-satunya cara untuk menjadi lebih baik lagi. Dia (Heynckes) yang meletakkan fondasi,” ujar Guardiola.

Guardiola kini sudah memegang kendali ruang ganti. Taktiknya menghasilkan gelar juara. Jika ia mampu meraih treble musim ini, apa yang diucapkan di ruang ganti Bayern akan menjadi suara ”Tuhan”, tak terbantah. Ia pernah mencapai itu di Barca dan menghasilkan 14 trofi.

Namun, tidak ada yang abadi. Saat ia tidak mampu lagi meraih para pemain asuhannya, Guardiola pun meninggalkan ”umat”-nya di Nou Camp. (afp/espn/bh)