Guangzhou Siap Latih Dokter Akupuntur Surabaya

Guangzhou Siap Latih Dokter Akupuntur Surabaya

Guangzhou Latih Dokter Akupuntur Surabaya

Pemerintah Kota Guangzhou, China dan Pemkot Surabaya meningkatkan kerjasama dalam bidang kesehatan. Hal itu terungkap saat  Ketua Majelis Permusyawaratan Politik (lembaga di atas DPRD) Kota Guangzhou, Su Zhija, saat berkunjung ke Balai Kota Surabaya, Selasa (3/12/2013). Kehadiran beliau ditemui Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Su Zhija mengatakan, banyak hal yang bisa dilakukan, di antaranya pengobatan traditional chinese medicine (TCM). Pengobatan tersebut banyak diterapkan di berbagai negara. Metode yang sudah diterapkan sejak ribuan tahun lalu tersebut, terbukti mampu berbicara banyak di tengah perkembangan teknologi modern.

“Bahkan ada beberapa jenis penyakit akut yang sulit disembuhkan, namun dengan metode akupuntur malah membaik,” katanya.

Su Zhija berharap kerja sama komprehensif di bidang kesehatan ini bisa segera terealisasi. Dia bilang, pihaknya siap memfasilitasi dokter-dokter Surabaya yang hendak belajar teknik pengobatan di Guangzhou.

“Kami akan sediakan pelatihan dan pendampingan bagi para dokter yang belajar di Guangzhou,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Guangzhou, Chen Yini. Kata dia, kerja sama kesehatan tidak akan berjalan searah, namun Dinkes Guangzhou berniat akan mempelajari penyakit yang banyak berkembang di daerah beriklim tropis seperti Indonesia.

Untuk itu, terang dia, Kota Guangzhou bakal mengirim tenaga medis untuk menggali informasi di Surabaya.

“Kota Surabaya punya banyak kelebihan yang perlu kami pelajari. Diharapkan, hasil pembelajaran dari Surabaya dapat memperkaya khasanah ilmu pengetahuan kami di bidang kesehatan,” tutur Chen Yini.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, menyambut baik inisiatif kerja sama kesehatan ini. Menurut dia, warga Surabaya dengan Guangzhou memiliki banyak kesamaan, baik dari segi budaya maupun kebiasaan. Salah satunya, banyaknya warga Surabaya yang memanfaatkan teknik pengobatan tradisional China.

“Saya pun rutin melakukan akupuntur karena efeknya pada tubuh sangat terasa,” katanya.

Risma mengungkapkan, perkembangan akupuntur sudah semakin pesat. Salah satu indikatornya, di Surabaya ada sekolah akupuntur yang punya kerja sama langsung dengan Tiongkok.

“Tahun lalu, ada profesor dari Guangzhou yang datang ke akademi akupuntur Surabaya guna memberikan pelatihan,” ujarnya.

Selain kesehatan, lanjut dia, wali kota berharap kerja sama di sektor yang lain juga bisa ditingkatkan, di antaranya bidang pariwisata, ekonomi, dan transportasi.

Kabag Kerja Sama Pemkot Surabaya, Ifron Hady, mengatakan MoU sistercity antara Surabaya dan Guangzhou diteken sejak 2005.

“Selama ini, beberapa kegiatan konkret yang sudah berjalan antara lain pameran dalam rangka peningkatan ekonomi, pertukaran misi budaya, dan kerja sama pendidikan,” katanya. (*)