GPFI Jatim Dorong Pembangunan Apotek di Pinggiran Kota

GPFI Jatim Dorong Pembangunan Apotek di Pinggiran Kota

Apotek atau rumah obat di kota Surabaya hingga kini masih tersentral di pusat kota saja dan belum banyak berdiri untuk melayani penjualan obat bagi warga pinggiran. Diharapkan, pendirian apotek yang hanya tersentral di pusat-pusat kota dapat menyentuh di pinggiran kota.

Ketua Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) Jawa Timur Paulus Totok Lusida berharap agar para apotek mau mendirikan di daerah pinggiran kota. “Kami terus mendorong agar apoteker tidak hanya di pusat saja namun merata,” katanya kepada enciety.co, Jumat (30/10/2015).

Menurutnya, masyarakat yang lebih membutuhkan akses obat justru adalah masyarakat menengah ke bawah, dan kebanyakan tinggal di daerah periferi atau pinggiran kota. Dan untuk mendirikan apotek cukup mudah. Hanya membutuhkan perijinan dari dinas kesehatan (dinkes) kota Surabaya dan BP POM.

Untuk mengatasi hal ini pihaknya merencanakan akan menggencarkan pembangunan apotek di wilayah pinggiran, baik dalam bentuk franchise maupun perseorangan. Dalam dua atau tiga tahun kedepan ditargetkan, akses masyarakat pinggiran kepada obat-obatan akan semakin mudah dengan padatnya apotek di wilayah mereka.

GPFI Jatim sendiri hingga kini membawahi 43 industri, 300 pedagang besar farmasi, 1000 apotek dan 200 toko obat. Dan apotek ini hingga kini bisa menyediakan 70 sampai 80 persen obat-obatanya terdiri dari jenis generik.

“Kami selalu anjurkan agar para apotek menyediakan obat generik agar harga obat dapat terjangkau oleh semua masyarakat,” tandasnya. (wh)