GPEI : Industri Jatim Hanya sebagai Tukang Jahit

GPEI : Industri Jatim Hanya sebagai Tukang Jahit

 

Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia (GPEI) Jatim prihatin dengan kondisi industri Jatim. Pasalnya, selama ini industri Jatim hanya sebagai tukang jahit lantaran lebih banyak mengambil bahan baku melalui impor.

Ketua GPEI Jatim Isdarmawan Asrikan mengungkapkan, sektor industri bisa bergairah bila ada campur tangan pemerintah agar kebutuhan bahan baku industri tercukupi. Dengan pertumbuhan ekonomi di atas nasional, Jatim merupakan provinsi perkebunan dan pertanian yang cukup tinggi.

“Ini mestinya disikapi oleh pemerintah, agar neraca perdagangan kita tidak terus mengalami defisit. Minimal seimbang. Sykur-syukur bisa kembali surplus seperti tahun 2011,” tegasnya, Rabu (26/2/2014).

Tingginya laju impor, menurut dia, tak lepas dari kebutuhan bahan baku untuk sektor industri. Artinya, sektor industri Jatim mendatangkan barang dari luar negeri kemudian dijadikan barang jadi.

Isdarmawan menyebut beberapa komoditi yang bisa diproduksi di Jatim untuk dijadikan bahan baku industri, di antaranya karet, kayu, kopi dan produk pertanian seperti kedelai, bawang putih, dan kacang mede (mente).

“Saya ingin membuka cakrawala, agar pemerintah mengubah mindset perlunya menggenjot industri untuk bahan baku dalam negeri. Mengenaskan bila kita mendatangkan hasil hutan, perkebunan, dan pertaninan dari luar daerah dan luar negeri,” jabarnya.

Dia menyebut perlunya dibuat pengelompokkan sesuai dengan kemampuan daerah masing-masing. Misalnya Blitar memproduksi ubi, Bojonegoro dan Jember memproduksi kayu, Probolinggo dan Pasuruan mangga dan Mojosari menanam mente.

Pengusaha kelahiran Malang itu mengingatkan agar budidaya tidak hanya mementingkan produktivitas. “Tetapi juga memperhatikan varietas. Dan harus dikawal oleh pemerintah melalui penyuluhan. Agar produk pertanian bisa menjadi bahan baku industri dan tidak asal-asalan,” ungkapnya.

Berdasarkan data dari BPS, neraca perdagangan di Jatim dalam dua tahun ini mengalami defisit. Tahun lalu defisit neraca perdagangan di Jatim mencapai USD 9.538,79 juta atau setara dengan Rp 114.4 miliar (dengan kurs USD 1 = Rp 12.000).

Dimana nilai impor Jatim tahun lalu mencapai USD 25.046,48 juta sedangkan ekspor sebesar USD 15.507,69 juta. Pada tahun 2012 defisit tercapai USD 8228,03 juta. Dimana nilai impor tercapai USD 24.477,25 juta dan nilai ekspor hanya USD 16.249,22 juta. (wh)