Gotong-Royong Cegah Corona

Gotong-Royong Cegah Corona

*) Thonthowi Dj

Masker,  pencuci tangan (hand sanitizer), bilik desinfektan, alat pelindung diri, alkohol, dan sarung tangan adalah kata benda yang sering berseliweran akhir-akhir  ini di banyak grup whatssapp. Barang-barang tersebut kian langka di pasaran. Warga masyarakat memburunya untuk melindungi diri dari wabah Corona.

Kesadaran masyarakat akan bahaya Corona kian meningkat. Mereka kian menyadari bahwa Covid19  adalah penyakit yang disebabkan oleh virus yang sangat cepat menyebar. Penyakit ini dapat menginfeksi dengan rentang yang amat lebar, dari yang tidak bergejala sampai berat dan meninggal dunia.  Karena itulah, masyarakat turut memburu perlengkapan kesehatan dalam menghadapi wabah corona.  Sehingga, kelangkaan pun tak terelakkan.

Kelangkaan itu tentu saja menyulitkan  petugas medis. Di Rumah Sakit Universitas Airlangga (RSUA), yang menjadi salah satu rujukan  pemeriksaan corona (Covid-19)  misalnya, kekurangan stok APD.

APD merupakan pakaian dan perlengkapan untuk melindungi tenaga medis yang melakukan perawatan terhadap orang yang berisiko terjangkit virus corona. “Stoknya semakin menipis,” ujar Ketua Satgas Corona RS Unair, dr Prastuti Asta Wulaningrum.

Di Rumah Sakit Umum Daerah Toraja, para tenaga medis akhirnya berkreasi untuk melindungi diri.  Mereka membuat sendiri perlengkapan yang dibutuhkan. Masker dari kain dilengkapi tali, mantel hujan dari plastik, sepatu boots, serta pelindung wajah yang terbuat dari karet tebal.

“Masker yang kami buat ada pori-pori kecil yang tentunya aman bagi tenaga medis,”  kata Direktur RSUD Lakipadada Tana Toraja, dr Safari D Mangopo.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih berharap dukungan dari masyarakat untuk mengatasi masalah tersebut, selain kepada pemerintah.  Maklum saja, tenaga medis saat ini memiliki risiko yang besar tertular.  Dokter dan tenaga medis, semestinya tidak boleh tertular, karena akan menulari pasien-pasien yang lemah yang tengah dirawat di rumah sakit atau klinik.

Apalagi, telah terjadi di rumah sakit yang bukan rujukan merawat pasien Covid-19,  namun dokter dan tenaga kesehatan lainnya tertular Covid-19.  Pasien poliklinik yang datang dengan keluhan non Covid-19  seperti masalah jantung  dan lainnya, ternyata bisa saja pembawa (carier ) dan bisa menyebarkan virus.  Karena itulah maka,  APD menjadi permasalahan tersendiri bagi rumah sakit atau pun klinik, tidak terkecuali yang sebenarnya tak menangani Covid-19.

Melihat situasi semacam itu, banyak komponen masyarakat yang bergerak. Kian banyak yang menyadari, pemerintah tak bisa berjuang sendirian. Masih banyak yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan oleh pemerintah dalam upayana mengatasi wabah ini. Namun, mengkritik kekurangan pemerintah saja pun tak akan membuat wabah ini cepat tertangani.

Karena itu pula para pengusaha besar banyak yang terjun langsung untuk turut membantu pencegahan wabah ini. Salah satu yang banyak disebut adalah Wardah Cosmetics yang menyumbang Rp40 miliar. Pengusaha tekstil berencana sumbang 2 juta masker. Pengusaha-pengusaha lain pun banyak yang turut serta dengan dikoordinasikan oleh Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia.

Masyarakat pun secara sendiri-sendiri pun telah bergerak. Ada yang menyediakan hand sanitizer dengan memproduksi sendiri, dan di donasikan ke rumah sakit. Ada yang gotong royong untuk membelikan APD. Ada pula yang memproduksi bilik disinfektan dengan bantuan para donatur.

Ada yang melakukannya secara spontan dengan langsung membentuk kepanitian, baik melalui jaringan alumni, pertemanan, komunitas dan lain-lain.  Sejumlah organisasi alumni perguruan tinggi pun telah berupaya berkoordinasi, mempersiapkan para relawanna yang bisa diterjunkan di pusat-pusat penanganan wabah Corona nantinya. Kebetulan masing-masing  organisasi alumni memiliki tim tanggap bencana, dan pernah dikoordinasikan dalam menangani bencana banjir beberapa waktu lalu.

Gerakan-gerakan masyarakat secamam itu ada yang terstruktur dengan baik. Bahkan, ada yang melakukannya dengan himbauan resmi dari pimpinan lembaga mereka.  Salah satu yang melakukannya adalah Fachmi Idris, Direktur Utama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Fachmi meminta seluruh pegawai di lembaganya secara ikhlas menyisihkan sebagian gajinya untuk membantu pemerintah melawan wabah Covid-19.  Dana ditransfer kepada salah satu pegawai yang ditunjuk.  Rupanya soliditas dan rasa kepdulian mereka tergolong tinggi. Dalam tiga hari sumbangan telah mencapai hampir setengah miliar rupiah. Aksi ini mereka sebut Gerakan Gotong-Royong Bantu Tenaga Kesehatan Cegah Corona (GEBAH CORONA).

Dalam penyalurannya, BPJS Kesehatan bekerja sama dengan IDI, dan salah satu media swasta untuk pengadaan APD bagi tenaga medis.  “Mereka melayani masyarakat tanpa kenal lelah, sehingga sudah seyogyanya kami turut bergerak membantu,” ucap Fachmi.

*) Sekjen Ikatan Alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)