Giliran Italia Tertarik Kerjasama dengan Surabaya

Giliran Italia Tertarik Kerjasama dengan Surabaya
Walikota bersama salah satu pengusaha Italia

 

Kota Surabaya tampaknya masih menarik perhatian negara-negara maju. Setelah Duta Besar (dubes) Prancis dan atase kedubes Belanda mengunjungi Surabaya pada 12 Maret lalu, kini giliran Dubes Italia untuk Indonesia, Federico Failla yang datang menemui Wali Kota, Tri Rismaharini.

Federico, membawa delapan perwakilan pengusaha asal Negeri Pizza dalam lawatannya ke Balai Kota, Selasa (18/3/2014). Keduanya memanfaatkan pertemuan itu sebagai penjajakan kemungkinan kerjasama. Federico mengatakan, hal yang mendasari kedatangannya kali ini adalah lantaran pihaknya menilai Surabaya sebagai pasar yang penting bagi Italia.

Federico memandang Kota Pahlawan sebagai kota dengan pertumbuhan ekonomi paling signifikan di Indonesia. “Karena itulah kami datang ke sini. Kami tertarik kerjasama di sektor otomotif (transportasi), makanan, sepatu, hingga pengelolaan sampah,” katanya.

Selain Federico, terdapat seorang pengusaha Italia yang sudah menanamkan modalnya di Jawa Timur, Lino Paravano. Menurutnya, dalam kurun 15 tahun terakhir bidang manufaktur Italia tumbuh paling signifikan di antara negara-negara Eropa lainnya. “Dalam kesempatan ini, saya berharap tercipta momen kerjasama yang melibatkan perusahaan-perusahaan Italia. Tak perlu diragukan lagi, karena perusahaan Italia mempunyai reputasi yang bagus dan terpercaya,” ujar pria yang fasih berbahasa Indonesia ini.

Lain lagi dengan Samuele Porsia, Direktur Italian Trade Agency. Ia mengklaim industri manufaktur Italia merupakan yang terbesar kedua di Eropa setelah Jerman. “Kalau di dunia, kami menduduki posisi kelima. Kami adalah penghasil sepatu kualitas terbaik,” ujarnya.

Tri Rismaharini menyatakan, pihaknya menyambut baik berbagai tawaran tersebut. Namun tak semua tawaran kerjasama tersebut bisa terlaksana. “Realisasi kerjasama akan disesuaikan dengan kebutuhan kota,” ujarnya.

Risma mengatakan, Surabaya tengah fokus pada pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) alias Angkutan Massal Cepat (AMC). Sebagai kota jasa dan perdagangan, aktivitas ekonomi di Surabaya kian padat. “Tapi sayangnya, kami masih belum punya sarana rekreasi keluarga berupa taman hiburan. Itu juga merupakan salah satu kebutuhan kami saat ini,” kata mantan Kepala Bappeko ini.

Sedangkan di bidang lingkungan, Surabaya sudah menjalin kerjasama dengan Kitakyushu, Jepang. Sehingga yang paling memungkinkan saat ini adalah kerjasama di bidang lain seperti pelatihan manufaktur maupun bidang transportasi. “Sejauh ini hanya sebatas penjajagan kerjasama. Dalam waktu dekat, ada kemungkinan pengusaha Italia ikut ambil bagian dalam Surabaya Great Expo (SGE), event rutin yang digelar tahunan. Ada juga tawaran dari pak Federico yang mengusulkan pengembangan kapasitas pegawai pemkot berupa pelatihan di Italia,” imbuh Kepala Bagian Kerjasama, Ifron Hady Susanto. (wh)