Gernas Pacu Produksi Kakao Nomor Dua Dunia

Gernas Pacu Produksi Kakao Nomor Dua Dunia

Sepanjang 2014 ini, secara nasional produksi kakao ditarget tembus angka 1,1 juta ton. Target ini, alami kenaikan dibanding produksi 2013 lalu yakni sebanyak 800 ribu ton.  Dirjen Perkebunan Kementan Gamal Nasir  mengatakan  target itu akan di-push lewat Program Gerakan Nasional Peningkatan  Mutu dan Produksi Kakao (Gernas Kakao).

“Dengan pelaksanaan gerakan ini kakao nasional didorong menjadi nomor dua di dunia dengan target sebesar 1,1 juta ton,” ujar Gamal Nasir di Jakarta, Rabu (15/1/2014).

Gernas kakao telah dilaksanakan mulai 2009-2011 dengan kucuran anggaran sekitar Rp 3 triliun serta cakupan areal 400 ribu hektare atau 27 persen dari luas perkebunan kakao 1,6 juta ha saat ini.

Sejauh ini, berdasar hasil pemantauan tim independen dari kalangan perguruan tinggi, program tersebut cukup berhasil. “Tim independen merekomendasikan program perlu dilanjutkan tahun ini, apalagi dampaknya terhadap industri hilir kakao ikut berkembang,” katanya.

Untuk itu, pihaknya juga akan melakukan pembinaan petani ke daerah-daerah dengan alokasi anggaran sekitar Rp200 miliar. Tak hanya untuk komoditas kakao, kata dia, saat ini setiap dewan komoditas juga meminta dilakukan program gernas terhadap komoditas perkebunan yang mereka bina.

Ketua Asosiasi Kakao Indonesia, Zulhefi Sikumbang mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir Indonesia berusaha meningkatkan produksi kakao, karena sebagaian pohon sudah memasuki usia uzur yang rawan diserang penyakit. Panen atau produksi kakao utama di Indonesia biasanya dimulai April dan sampai puncak bulan Juli dan Agustus.

Dia mengakui kualitas kakao Indonesia masih cukup rendah karena proses pengawasan mutu yang kurang.  Sehingga daya saing produk biji kakao Indonesia kalah dengan negara-negara Afrika seperti Pantai Gading dan Ghana.

Atas rendahnya kualitas kakao, biji kakao Indonesia di pasar internasional selama ini mendapat pemotongan harga. Akibatnya negara dirugikan karena kerugian devisa dengan harga jual yang rendah. Diperkirakannya sekitar US$150 juta atau Rp1,4 triliun per tahun kerugian karena kualitas yang rendah. (ram)