Gepeng Merawat Budaya Leluhur lewat Kaus

Gepeng Merawat Budaya Leluhur lewat Kaus

Rahmad Hidayat Basuki alias Gepeng, pendiri jogjaforce.org, memamerkan kaus karyanya, foto: arya wiraraja/enciety.co

Popular Culture Convention (Popcon) Surabaya 2016 yang dihelat di Gedung Eks Siola, Jalan Tunjungan Surabaya pada 4-5 Juni 2016 lalu, menyisakan sejumlah cerita sukses. Di antaranya dari Rahmad Hidayat Basuki yang karib disapa Gepeng. Cowok asal Jogjakarta lumayan mencuri perhatian pengunjung dengan menjajakan barang yang bernuansa budaya.

Gepeng mengaku sangat mengagumi dan ingin melestarikan budaya lokal. Karena itu, ia berupaya mengemas dengan berbagai kreativitas. Ini agar budaya tersebut dapat dimengerti dan dipahami oleh generasi saat ini.

“Semangat itulah yang melatar belakangi kami membuat jogjaforce.org yang memiliki motto niteni, niroke lan nambahi (memperhatikan, merinukan dan menambahkan),” jelas dia kepada enciety.co.

Gepeng lalu bercerita saat memulai usahanya pada tahun 2011. Saat itu, banyak anak muda Jogjakarta yang lebih menyukai budaya asing. Hal tersebut terbukti dengan meningkatnya penjualan kaus bergambar ikon asing di kota tempat tinggalnya.

“Kami tidak ingin budaya lokal yang ada di Indonesia tergerus oleh budaya asing yang masuk. Terlebih semakin berkembangnya teknologi saat ini membuat generasi muda lebih tertarik dengan budaya asing,” jelas dia yang juga seorang pelukis.

“Disitulah butuh ide kreatif ide kreatif. Budaya-budaya lokal kita juga harus lebih berkembang. Kita sebagai penerus bangsa harus mampu mengemas budaya kita kedalam karya, di antaranya dengan membuat kaus yang bergambarkan tokoh pewayangan Jawa yang telah dimodifikasi,” urai pemuda kurus itu.

Di antara hasil karyanya Gepeng ada tokoh Garuda Wisnu Kencana yang visualnya telah diubah lebih modern. Lalu, ada tokoh Anoman, Nyai Blorong dan lain sebagainya.

“Efeknya, ketika kita dapat menghasilkan produk kaus yang gambarnya telah dimodifikasi tersebut, anak-anak muda di Jogjakarta sangat menyukai dan produk kami laku keras,” akunya.

Apa yang dilontarkan Gepeng bukan hanya isapan jempol. Contohnya pada acara Popcon Surabaya 2016 yang digelar dua hari, ia mampu menjual ratusan kaus. Penyuka kaus hasil karya Gepeng di antaranya Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Pada pembukaan Popcon Surabaya 2016, Sabtu (4/6/2016) lalu, salah satu wali kota terbaik dunia itu memborong kaus bergambar tokoh pewayangan karya Gepeng.

“Alhamdulillah mas, waktu itu saya sempat kaget ketika Bu Risma singgah dan meninjau stan kami. Lalu saya ditanya dan beliau sempat mencoba kaus produk kami ini. Ternyata beliau tanpa ragu memborong kaus kami,” ujar Gepeng bangga.

Saban hari, Gepeng menawarkan kaus produksinya tersebut digerainya yang berada di Kota Jogjakarta. Untuk satu kaus buatannya itu, ia bandrol dengan harga Rp 120 ribu. “Tapi, jika ada event pameran seperti Popcon tempo hari kami menjual produk kami antara Rp 90-100 ribu,” paparnya.

Ke depan, Gepeng sangat berharap langkah yang dia lakukan untuk dapat melestarikan budaya Indonesia itu dapat ditiru para pemuda zaman sekarang. “Sudah saatnya pemuda saat ini mengerti jika kita tidak boleh dijajah oleh bangsa asing lewat budaya-budaya mereka yang masuk melalui kebebasan infomasi dan kemajuan teknologi. Hal itulah yang perlu mereka cermati,” tutup Gepeng, lantas tersenyum. (wh)