Genjot Produksi Petani Garam dengan Teknologi Geo Membran

Genjot Produksi Petani Garam dengan Teknologi Geo Membran

Teknologi geo membran yang diterapkan PT Garam (Persero) akan diikuti oleh petani garam. Dimana sejumlah petani garam pada akhir kuartal ketiga ini telah mendapat bantuan dari pemerintah teknologi serupa.

Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas produksi garam. Selain itu, hasil dari produksi garam melalui teknologi yang lebih modern ini bisa menutup kran impor garam. Rembesan impor garam inilah yang menyebabkan harga pokok petani (HPP) ditingkat petani menjadi jatuh.

Sekretaris Jenderal Perkumpulan Petambak Garam Indonesia (PPGI) Sarli kepada wartawan penerapan teknologi geo membran memang masih sedikit. “Penerapan teknologi ini bukan investasi dari petani, melainkan bantuan dari pemerintah dan belum semua petani dapat bantuan,” ungkap Sarli kemarin (18/9) kemarin sore di Surabaya.

Sejumlah kota yang mendapat bantuan teknologi geo membran dari kementerian Kelautan dan Perikanan adalah Pati, Cirebon, dan Indramayu. Pemerintah membagikan 20 desa untuk 34 kelompok tani dari total lahan 10 hektar. Sedangkan Indramayu hanya tiga titik dari total lahan garam 700 hektar.

“Memang sangat sedikit, tetapi kami berharap hasil produksi ini bisa menekan impor yang terus merembes. Sebab, hasil produksi ini nantinya untuk kebutuhan industri,” lanjut Sarli. PPGI sendiri belum bisa memprediksi hasil produksi garam hingga akhir 2014.

Saat ini produksi garam ditingkat petani rata-rata 70-80 ton perhektar disejumlah daerah. Dengan menggunakan geo membran, diharapkan ada peningkatan produksi hingga 100 ton perhektar. Sarali malah menyebut sejumlah daerah ada yang mampu mencapai diatas 100 ton perhektarnya.

Penerapan geo membran ini dihgarapkan bisa meningkatkan kualitas harga garam serta penjualan untuk kelompok industri. “Saat ini kita sudah ada nota kesepahaman dengan beberapa industri, seperti Sprite dan Garuda Food di Cirebon,” ungkap Dewan Presidium PPGI, Rokib Ismail. Tetapi dia tidak menyebut nilai transaksi yang disepakati antara petani dengan industri.

Tahun ini, target produksi garam mencapai 3,3 juta ton dari total lahan 26.700 hektar. Ironisnya, impor garam masih berlanjut dimana tahun 2009 mencapai 1,6 juta ton dan turun pada 2013 mencapai 1,09 juta ton. “Kenyataannya garam impor ini bukan untuk industri, melainkan konsumsi,” tegas Rokib. (wh)