Gempur ISIS, AS Perluas Serangan Udara di Irak

 

Gempur ISIS, AS Perluas Serangan Udara di Irak

Amerika Serikat memperluas dan mengintensifkan serangan udara di Irak. Serangan udara ini menyasar kelompok militan garis keras Sunni di jantung daratan Arab Irak. Serangan ini memperluas kampanye udaranya yang sudah dilakukan selama sebulan. Pesawat-pesawat tempur AS membom basis-basis ISIS di sekitar bendungan strategis Sungai Efrat, daerah dimana kelompok militan itu telah berulang kali dicoba ditangkap pasukan pemerintah dan sekutu milisi Sunni mereka.

“Kami melakukan serangan ini untuk mencegah teroris meningkatkan ancaman pada keamanan bendungan, yang tetap berada di bawah kendali pasukan keamanan Irak, dengan dukungan dari suku-suku Sunni. Potensi kehilangan kontrol bendungan atau bencana kegagalan bendungan dan banjir yang mungkin timbul akan mengancam personil dan fasilitas AS di dan sekitar Baghdad, serta ribuan warga Irak,” ujar Juru Bicara Pentagon Laksamana John Kirby di Washington, Minggu (7/9/2014).

Ini adalah pertama kalinya Washington melakukan serangan udara dalam mendukung pasukannya termasuk milisi Arab Sunni. Akhir bulan lalu Washington memberi dukungan pesawat terbatas ke milisi Syiah dan pejuang Kurdi dalam memecahkan pengepungan IS ke kota Amerli di Utara Baghdad.

Bendungan telah menjadi target utama para kelompok militan garis keras Sunni dan telah terjadi pertempuran besar di seluruh bendungan terbesar Irak di Sungai Tigris, di Utara kota Mosul, yang menjadi fokus utama dari kampanye udara AS. Sebelumnya para pejabat AS telah menyatakan keprihatinan tentang integritas bendungan Haditha dan Mosul, yang memerlukan pemeliharaan konstan sebagai akibat dari kurangnya investasi.

Dua bendungan ini merupakan sumber penting bagi pasokan listrik dan air irigasi bagi petani. Negara-negara barat datang di bawah tekanan untuk mengambil tindakan tegas terhadap ISIS, yang mengontrol Suriah serta wilayah Utara dan Barat Baghdad yang signifikan. Kelompok militan garis keras Sunni telah melakukan serentetan kekejaman di daerah yang dikuasainya, beberapa di antaranya telah direkam dan diunduh di Internet. PBB menuduh ISIS melakukan pembersihan etnis di Irak Utara, dengan merinci kampanye penahanan massal dan eksekusi terhadap warga kawasan Kristen, Turkmen, dan Kurdi Yazidi.

Pemenggalan wartawan asal AS James Foley dan Steven Sotloff telah menambah tekanan pada para pemimpin Barat.

Seorang wartawan Prancis yang disandera di Suriah oleh ISIS mengatakan dalam komentar yang dipublikasikan Sabtu ini bahwa salah satu penculiknya adalah orang Prancis asal Aljazair yang senang menyiksa tawanannya.

Nicolas Henin, salah satu dari kelompok empat sandera wartawan yang dibebaskan pada April, mengatakan Mehdi Nemmouche, yang telah diekstradisi ke Belgia dan ditahan untuk diinterogasi, adalah kepala penjara pada periode Juli dan Desember 2013. Ia mengatakan pria berusia 29 tahun yang menghabiskan lebih dari satu tahun bertempur di Suriah adalah sosok yang ditakuti dan suka melakukan kekerasan. (bst/ram)