Gelar Meeting Program Pemenang PE 2015 di Kaza City

Gelar Meeting Program Pemenang PE 2015 di Kaza City
Puluhan pelaku usaha kecil menengah (UKM)kota Surabaya yang berpredikat sebagai pemenang Pahlawan Ekonomi 2015 menghadiri Meeting Program di Kaza City, Jalan Kapas Krampung, Surabaya, Minggu (30/8/2015). arya wiraraja/enciety.co

Puluhan pelaku usaha kecil menengah (UKM) Surabaya yang berpredikat sebagai pemenang Pahlawan Ekonomi (PE) 2015 mengadakan Meeting Program di Kaza City, Jalan Kapas Krampung, Surabaya, Minggu (30/8/2015).

Ada beberapa pelaku UKM unggulan dari kategori home industry (HI), creative industry (CI), culinary business (CB) yang hadir.

Ketua Steering Committee Pahlawan Ekonomi Bagus Soepomo mengatakan, Pahlawan Ekonomi akan memilih dan membina 99 UKM unggulan untuk dapat mengembangkan usahanya.

“Dengan adanya cara gethok tular seperti ini kami berharap agar pelaku UKM unggulan yang telah berpengalaman dalam hal produksi dan pemasaran tersebut dapat membantu antarsesamanya,” ujarnya.

Sementara Herman Basuki, fasilitator Pahlawan Ekonomi, menegaskan jika UKM harus selalu berfikir kreatif dan berinovasi dalam melakoni usahanya. Saat ini, dengan pasar terbesar di Indonesia, khususnya Surabaya adalah kaum muda. “Namun, kebanyakan kaum muda memiliki standar tinggi terhadap produk yang mereka inginkan,” paparnya.

Herman menambahkan, adanya standar tinggi tersebut dipengaruhi oleh kemajuan arus informasi dan pergaulan mereka yang semakin luas. “Contohnya, kebanyakan anak muda selalu memfoto dan upload makanan yang mereka makan ke media sosial. Bukan hanya itu, kadang mereka juga menanggapi makanan tersebut. Lewat media sosial akan menular kepada kawan-kawan mereka yang lain,” ungkapnya.

Dia juga mengatakan, saat ini anak muda tidak terpengaruh dengan lesunya ekonomi. Perlu diingat, anak muda adalah golongan dengan populasi terbesar di Indonesia, khususnya Surabaya. Saat ini anak muda memiliki daya beli yang tinggi.

“Dengan daya beli yang lebih baik, maka permintaan akan semakin bertambah, secara tidak langsung dengan bertambahnya permintaan, maka akan memunculkan standar permintaan yang tinggi terhadap kualitas produk yang diinginkan,” terangnya.

Siti Retnanik, salah seoarang fasilitator industri kreatif handicraft, mengatakan jika para produsen dalam hal ini pelaku UKM harus mampu membedakan antara keinginan, kebutuhan, dan harapan dari para konsumen.

“Keinginan adalah rasa penasaran yang memancing para konsumen untuk tertarik pada produk yang kita hasilkan. Berbeda dengan kebutuhan, dalam menyikapi kebutuhan kita harus mencukupi permintaan pasar,” urainya.

Nanik Heri, sapaan karibnya, menuturkan jika para pelaku UKM dapat hendaknya dapat membaca harapan pasar. “Secara tidak langsung kita dituntut terus berinovasi dan memberikan ide kreatif untuk dapat mengembangkan hasil produksi. Contohnya, kita telah berhasil menciptakan produk handicraft gelang berwarna hitam, namun pasar ingin kita bisa menciptakan gelang warna merah, secara tidak langsung kita dituntut dapat mengembangkan sumber daya kita sendiri agar dapat memenuhi harapan dari pasar,” tandasnya. (wh)