Gelar Kompetisi Karya buat Mengukur Penyerapan Hasil Pelatihan

Gelar Kompetisi Karya buat Mengukur Penyerapan Hasil Pelatihan
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini saat bernyanyi bersama ratusan ibu-ibu yang mengikuti lomba Pahlawan Ekonomi di Pahlawan Ekonomi di Kaza City Surabaya, Minggu (23/11/2014).

Setelah mengikuti pelatihan Pahlawan Ekonomi hingga bisa, kini kemampuan ibu-ibu Pahlawan Ekonomi (PE) Surabaya dikompetisikan untuk melihat kesungguhan para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang baru dirintis tersebut.

Bertempat di Kaza City Surabaya, ratusan ibu-ibu PE beradu ketangkasan membuat karya dari ilmu yang telah didapatkan.

Dikatakan Koordinator Pelatihan PE Nanik Heri, lomba yang diikuti seluruh UMKM PE ini diselenggarakan untuk melihat kemampuan dan daya serap dari materi yang telah diajarkan pada pelatihan sebelumnya. Menurutnya dengan cara ini, akan mudah melihat peserta yang sungguh-sungguh ingin menjadi pengusaha atau tidak.

“Kemarin kan sudah dilatih bikin berbagai kerajinan, makanan, sampai berbagai jenis home industry. Sekarang kita lihat mana yang meresapi materi dengan sungguh-sungguh dan tidak,” katanya.

Menurut Nanik, ada berbagai macam perlombaan yang diikuti oleh ibu-ibu. Di antaranya lomba membuat manik-manik, dompet, tas, dan kreasi batik. Selain itu, di bidang kuliner bisnis, juga ada lomba masak kuliner pesisir, nasi tumpeng, es buah, es teler, dan berbagai jenis kuliner lainnya.

Dengan cara seperti ini, Nanik dapat dengan mudah memantau ibu-ibu yang mengalami kesulitan dalam memproduksi barang dagangannya. Untuk pelatihan yang telah dilakukan lebih efektif dan bermanfaat bagi ibu-ibu.

Sebelumnya, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang hadir untuk menyemangati peserta lomba menaruh harapan besar terhadap kerja keras ibu-ibu Pahlawan Ekonomi. Ini karena menurutnya pasar bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) telah di depan mata dan siap untuk masuk Surabaya.

“Jadi ibu-ibu sekalian, menjadi pengusaha itu tidak membutuhkan modal. Itu nomor sekian. Justru banyak pengusaha yang mengandalkan modal bangkrut karena tidak mempunyai keahlian di bidang usahanya. Kalau ibu-ibu kreatif dan pinter buat tanpa modal pun bisa,” kata Risma menasihati. (wh)