Geekfest 2017 Ajak Pelaku Industri Kreatif Berkolaborasi

Geekfest 2017 Ajak Pelaku Industri Kreatif Berkolaborasi

Press Confrence Geekfest 2017 di Gedung Eks Siola, Jalan Pemuda, Surabaya, Jumat (19/5/2017). foto: arya wiraraja/enciety.co

Hari Jadi Kota Surabaya ke-724 tahun ini berasa spesial. Pasalnya, Kota Surabaya kembali menjadi tempat digelarnya event berkumpulnya para pelaku usaha industri kreatif nasional bertajuk Geekfest 2017.

Geekfest 2017 bakal menitikberatkan pada tema kolaborasi. “Dalam konsep kami, para pelaku industri kreatif harus dapat saling mendukung satu sama lain agar besar bersama-sama,” kata Budi Tandiono, Project Manager Geekfest, di sela Press Confrance Geekfest 2017 di Gedung Eks Siola, Jalan Pemuda, Surabaya, Jumat (19/5/2017).

Budi menjelaskan, saat ini dunia industri kreatif Indonesia tumbuh sekitar 7 persen saban tahunnya. Kota Surabaya merupakan salah satu kota yang memiliki sumber daya komplet bagi para pelaku usaha industri kreatif.

Dengan berkolaborasi, tegas Budi, para pelaku industri kreatif dapat lebih kuat dan berkembang di tengah perkembangan zaman yang mengarah pada era digital.

Dalam acara Geekfest yang digelar Sabtu-Minggu (20-21/5/2017), akan dihadiri para pelaku usaha industri kreatif, di antaranya desainer, komikus, pelaku usaha di bidang industri Informasi Teknologi (IT), dan lain sebagainya.

Budi memaparkan, banyak hal yang dapat dinikmati saat gelaran Geekfest 2017. Di antaranya, permainan hologram karakter yang dapat berinteraksi, date virtual, dan lain sebagainya.

Dia juga menjelaskan, jika ada sebuah karya dari Peter Shearer, yang merupakan salah seorang kolaborator Geekfest. Dalam karya yang bernama Neuro Experience itu, disajikan alat yang dapat menangkap sensor dari otak yang nantinya dapat diubah menjadi semacam perintah untuk menggerakkan sebuah benda yang sebelumnya sudah ditanami sebuah sensor serupa.

“Alat tersebut berbentuk seperti earphone, namun ketika kita memakai alat tersebut kita dapat menggerakkan benda. Contohnya mobil-mobilan yang telah dipasang semacam sensor. Kita tinggal memikirkan untuk menggerakkan benda tersebut, lantas benda itu dapat bergerak. Ke depan, karya ini dapat digunakan untuk para orang yang berkebutuhan khusus (difabel),” jelas Budi.