Gawat, Antibiotik Tercanggih Tak Mempan Habisi Bakteri

 

Gawat, Antibiotik Tercanggih Tak Mempan Habisi Bakteri

Resistensi antimikroba merupakan masalah serius di dunia. Indonesia sendiri telah menyepakati upaya koordinasi di tingkat regional dan global dalam pengendalian resistensi antimikroba. Hasil penelitian Antimicrobial Resistance in Indonesia: Prevalence and Prevention yang disebut Amrin Study tahun 2000-2005 menunjukkan, resistensi antimikroba merupakan masalah kesehatan penting di Indonesia.

“Amrin dilaksanakan di beberapa rumah sakit di Surabaya dan Semarang. Hasilnya menunjukkan adanya masalah resistensi antimikroba di Indonesia,” kata Menkes  Nafsiah Mboi

Menkes meminta seluruh jajaran pemerintah baik pusat maupun daerah serta masyarakat untuk segera melakukan upaya agar penggunaan antimikroba dilakukan dengan bijak atau sesuai indikasi. Disertai juga dengan informasi yang jelas dan benar-benar dapat dipahami agar masyarakat tidak sembarangan mengonsumsi antibiotik tanpa resep dokter.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah sudah memberikan peringatan sekaligus solusinya untuk seluruh anggota di dunia sejak 2001 sila melalui “Global Strategy for Containment of Antimicrobial Resistance”. Namun, hingga saat ini implementasinya sama sekali belum dirasakan.

Di Indonesia, sejak tahun 2002 sudah terjadi resistensi kuman terhadap obat antibiotik di berbagai rumah sakit. Survei terakhir pada akhir 2013 lalu menemukan, dari 6 rumah sakit yang diidentifikasi E-Coli an Klebsiela Pneumonia telah memproduksi enzim Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL) pada kisaran 40 persen sampai 60 persen. Itu artinya, seluruh antibiotik mulai dari generasi I sampai IV sudah tidak mempan membunuh bakteri.

Penyebab munculnya resitensi kuman terhadap obat ini adalah karena tingginya penggunaan antibiotik. Sebanyak 50 persen sampai 80 persen antibiotik diberikan kepada pasian secara tidak rasional atau tanpa indikasi. Selain itu, penyebaran resistensi antimikroba di rumah sakit tinggi karena pemahaman serta upaya pencegahan masih sangat rendah.

Tanpa gerakan pengendalian resistensi antimikroba, menurut Hari, diperkirakan angka kesakitan dan kematian akibat resistensi antimikroba semakin meningkat. Seluruh rumah sakit di dunia pada tahun 2013 lalu diisyaratkan untuk menurunkan kematian akibat resistensi antimikroba sampai 25 persen.

Biaya perawatan pasien infeksi pun semakin mahal dan akan menguras cadangan dana di rumah sakit maupun BPJS Kesehatan yang menyelenggarakan Jaminan Kesehatan Nasional. Produktivitas kerja secara nasional menurun karena tingkat kesakitan yang meningkat. Lebih jauh, tenaga ahli asing dan para wisatawan semakin takut berkunjung ke Indonesia. (bst/ram)