Garuda Indonesia Alokasikan Capex USD 210 Juta

Pesawat Garuda Tujuan Malang Divert ke Juanda

PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) bersama dua anak usahanya, PT Citilink Indonesia dan PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) tahun ini senilai total USD 210 juta. Jumlah tersebut terdiri atas capex Garuda Indonesia sebesar USD 130 juta, Citilink Indonesia senilai USD 50 juta, dan GMF sebesar USD 30 juta.

Direktur Keuangan Risiko dan Teknologi Informasi I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra mengatakan, hingga kuartal I-2015, perseroan telah menyerap capex sebesar USD 4,3 juta. Dari anggaran capex USD 130 juta, Garuda akan menyerap USD 40 juta untuk biaya operasional, USD 40 juta untuk biaya perawatan pesawat, USD 30 juta untuk biaya pelayanan, dan sisanya USD 20 juta untuk sumber daya manusia (SDM). “Capex jangka panjang itu berasal dari kas internal. Capex itu tidak termasuk anggaran pembelian pesawat dan capex anak perusahaan,” kata Askhara di Jakarta.
Askhara menjelaskan, setiap anak usaha Garuda Indonesia memiliki alokasi capex sendiri. Misalnya, GMF Aero Asia berencana mengucurkan dana investasi senilai USD 30 juta untuk kebutuhan pembangunan hanggar baru pesawat.

Direktur Utama GMF Aero Asia Richard Budihadianto mengatakan, tahun ini, ekspansi perseroan fokus pada dua proyek. Pertama, perseroan membidik penambahan kapasitas hanggar sekitar 30-40 persen tahun ini. Kondisi itu akan terpenuhi dengan pengoperasian hanggar keempat seluas 57 ribu meter persegi (m2) di Bandara Soekarno-Hatta pada Juli 2015. “Saat ini, kapasitas hanggar yang kami punya sudah full capacity. Kami menyediakan hanggar sebagai pemeliharaan pesawat komersial dan kargo. Komposisinya memang lebih banyak untuk pesawat Garuda Indonesia yaitu 75 persen, sedangkan non-garuda 25 persen,” kata dia.

GMF juga masih menyiapkan pembangunan hanggar di Bintan, Kepulauan Riau. Akhir tahun lalu, perseroan bersama Bintan Aviation Investment, anak perusahaan Gallant Venture Ltd, telah meneken nota kesepahaman terkait pembangunan hanggar tersebut.

Menurut dia, target pembangunan hanggar di Bintan adalah akhir 2015 dan selesai pada 2017. Perseroan masih membutuhkan waktu untuk proses negosiasi. Rencana bisnisnya terus dimatangkan kedua pihak. Saat ini, GMF memiliki porsi kepemilikan 60 persen pada proyek tersebut, sedangkan Gallant Venture 40 persen.

Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo mengatakan, pihaknya akan mendorong GMF untuk terus mengembangkan usahanya demi mencapai target. Pada 2014, GMF Aero Asia berhasil membukukan pendapatan sebesar USD 265 juta. Tahun ini diharapkan naik menjadi USD 300 juta dengan berbagai akselerasi bisnis. (bst)