Garuda Bukukan Laba Bersih USD 29.3 Juta

Garuda Bukukan Laba Bersih USD 29.3 Juta
foto: sekolahpramugari.org

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, pada semester I tahun 2015 berhasil membukukan laba bersih tahun berjalan (net income year to date) sebesar USD 29.3 juta, meningkat sebesar 114,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mengalami kerugian sebesar USD 201.3 juta.

Peningkatan kinerja perusahaan yang sudah listing di bursa dengan kode GIAA di tengah penurunan perekonomian ini, dicapai berkat penerapan berbagai strategi pengembangan bisnis oleh perseroan melalui program “Quick Wins”, serta melalui berbagai upaya efisiensi berkelanjutan yang dilaksanakan.

Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Arif Wibowo pada saat mengumumkan Laporan Keuangan Semester I Tahun 2015 di Jakarta, Selasa (29/7) menjelaskan, Garuda Indonesia juga berhasil meningkatkan pendapatan usaha (operating revenue) sebesar USD 1.84 miliar, mengalami peningkatan sebesar 4,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar USD 1.76 miliar. Sementara beban usaha (operating expenses) berhasil diturunkan sebesar 11,6 persen dari USD 1.99 miliar menjadi USD 1.76 miliar.

‘’Peningkatan pendapatan dan disiplin penurunan biaya ini merupakan wujud pertumbuhan positif perusahaan yang ditopang oleh meningkatnya kinerja Perseroan sejak awal tahun 2015,’’ kata Arif.

Seiring dengan pengembangan jaringan penerbangan yang dilaksanakan secara berkelanjutan, Garuda Indonesia (termasuk Citilink) juga berhasil mengangkut sebanyak 15.900.961 penumpang, meningkat 19,5 persen dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 13.307.351 penumpang.

Garuda berhasil mengangkut sebanyak 11.555.319 juta penumpang (terdiri dari 9.432.349 penumpang domestik dan 2.122.979 penumpang internasional) atau meningkat 15,3 persen, sementara Citilink berhasil mengangkut 4.345.642 juta penumpang atau meningkat 32 persen dari 3.282.844 penumpang pada periode yang sama tahun lalu.  Sementara, muatan kargo yang diangkut pada semester I tahun ini mencapai 176.123 ton kargo dari sebelumnya 193.508 ton.

Frekuensi penerbangan Garuda Indonesia (domestik dan internasional) juga mengalami peningkatan mencapai 122.446 penerbangan, meningkat 13,8 persen dibanding tahun lalu yang sebanyak 107.568 penerbangan. Kapasitas produksi (availability seat kilometer/ASK) juga meningkat sebesar 7,2 persen menjadi 26,08 miliar dari 24,32 miliar seat kilometer pada semester I/2014.

Garuda Indonesia juga berhasil meningkatkan tingkat isian penumpang (Seat Load Factor/SLF) pada semester I 2015 ini menjadi 75,8 persen, dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 69 persen. Tingkat ketepatan penerbangan (OTP) mencapai 89,7 persen, dengan utilisasi pesawat sebesar 09:12 jam.

Di samping itu, Garuda Indonesia juga berhasil meningkatkan market share-nya baik di pasar domestik maupun internasional. Pada periode Semester I Tahun 2015 ini, market share Garuda di pasar domestik mencapai 44 persen, meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu yang sebesar 37 persen. Sementara market share di pasar internasional pada periode ini mencapai 28 persen, meningkat dari tahun lalu yang sebesar 21 persen.

Sebagai strategi untuk mengantisipasi efek dari melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US Dollar, sejak kuartal I tahun 2015 ini Garuda Indonesia melakukan kerjasama lindung nilai melalui transaksi “Cross Currency Swap” dengan beberapa bank, atas obligasi Rupiah ke mata uang US dollar senilai total Rp 2 triliun.

Melalui pelaksanaan transaksi “Cross Currency Swap” tersebut Garuda dapat menghindari atau mengurangi risiko melonjaknya biaya operasional jika dibayar dalam mata uang Rupiah karena pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang dollar AS. Hal ini mengingat biaya operasional penerbangan seperti pembelian spare parts, maintenance serta sewa pesawat dibayarkan dalam mata uang dollar AS.

Hingga periode 1H2015 ini Garuda Indonesia mengoperasikan total 180 pesawat (Garuda dan Citilink) terdiri dari Boeing 777-300ER (7), Airbus A330-200/300 (22), Boeing 747-400 (2), Airbus A320 (35), Boeing 737-500/800NG (89), Bombardier CRJ1000 NextGen (15), dan ATR72-600 (10) dengan usia rata-rata pesawat 4,8 tahun. (wh)