Garap Stand Up Komedi Gaya Film Indie

Garap Stand Up Komedi Gaya Film Indie
Para video maker yang tergabung dalam Grup Bacin Semarang me-review hasil syutingnya sekaligus mengajari peserta Start Surabaya di Spazio, Selasa (27/1/2015).

Di tengah serbuan teknologi informasi dewasa ini telah berdampak banyak pada kemudahan di sejumlah sektor kehidupan. Khususnya bagi industri perfilman. Jika dulu untuk membuat satu film saja harus butuh biaya ratusan juta hingga miliaran rupiah, tapi tidak lagi. Cukup berbekal kreativitas dan ketekunan semua hal bisa terjadi.

Inilah yang sedang dipraktikan empat pemuda asal Semarang yang tergabung dalam Grub Bacin. Mereka seperti mendobrak dunia perfilman dengan membuat film indie. Tidak main-main, empat pemuda ini berhasil menelurkan sedikitnya 20 film indie tanpa mengeluarkan biaya besar.

Mereka adalah Gita Pilar Paramaaj, Ario Pamariadinata, Gatot Indraputra, dan Abdul Hakim yang sudah setahun terakhir menjalani aktivitas menjadi sineas muda. Genre yang mereka ambil pun cukup menarik, yakni bergaya komedi stand up.

“Bedanya kalau stand up komedi itu kan perorangan yang melakukan dialek satu arah. Sedangkan kalau kita beda, komedi dikemas dengan gaya fim indie dengan akting suatu tema tertentu. Jadinya banyak bicara, makanya kami namai Bacin singkatan dari (banyak cincong),” aku Gita saat ditemui enciety.co di Spazio Surabaya, Selasa (27/1/2015).

Pada kesempatan itu, Bacin berkesempatan menjajal akting dengan para peserta Start Surabaya. Tanpa skenario, tanpa story board, tanpa sutradara, prudeser, atau bahkan make-up artis. Take film indie pun dilakukan siang itu. Tak pelak suasana kelas Start Surabaya tampak berbeda dibanding biasanya.

“Kami memang sudah biasa membuat film indie tanpa skenario dan lain sebagainya. Cukup garis besar dan benang merah ceritanya saja. Jadi dialognya mengalir aja, atau banyak improfisasinya,” katanya.

Bermodalkan sebuah kamera DSLR, audio, dan garis besar sebuah cerita yang tertulis di masing-masing otak para pemain, syuting pun dilakukan. Kepada para peserta Start Surabaya, mereka pun unjuk gigi dan melakukan take sebuah film pendek. Ceritanya, saat itu Ario sebagai pemeran utama sedang kebingungan mencari koneksi jaringan Wifi di Spazio.

Tidak kehilangan akal, Ario pun masuk di satu per satu ruangan Spazio untuk mencari sumber kehidupannya di sosial media. Tak sengaja ia masuk sebuah ruang kelas Start Surabaya. Di saat yang bersamaan, Brand Ambassador YouTube, Dennis Adhiswara sedang memberikan materi kepada peserta.

Pintu pun dibuka oleh Ario. “Permisi?” kata Ario lalu disahut Dennis dengan wajah keheranan, “Iya Mas, cari siapa?” Beberapa saat suasana terasa hening. Dennis dan para peserta Start Surabaya menatap Ario dengan wajah penuh tanya. “Tidak cari siapa-siapa, mas,” jawab Ario seraya nyengir sendiri.

Seisi ruangan kelas Start Surabaya pun penuh keheranan. Dalam benak Dennis, mau ngapain orang ini masuk ke kelasnya dan tidak memiliki tujuan? Sejurus kemudian Ario tiba-tiba mengeluarkan ponselnya, sembari nyengir berulang-ulang. “Saya cari password wi-fi, Mas-nya ada?” seperti menagih.

Dennis pun menghela napas panjang mendengar pertanyaan Airo. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya dan memberikan password wi-fi untuk Ario. “Ya, itu idenya muncul saja, terus kita diskusikan dan kita garap,” sambung Gita.

Sementara itu, dengan adanya syuting dadakan yang dilakukan Bacin ini banyak membuat peserta Start Surabaya kagum. Maykel, misalnya,. Dia meresa apa yang dilakukan Bacin sangat kreatif. Bahkan ia tidak bisa membayangkan, bagaimana sebuah kamera dan audio sudah bisa menjadi sebuah film pendek?

“Kebetulan saya juga sedang menggarap produksi animasi film pendek. Mungkin sedikit banyak, mereka akan bisa membantu saya untuk mengajari teknik-tekni membuat sebuah film pendek,” bebernya.

Gita menambahkan, kebanyakan film indie yang mereka produksi berdurasi pendek antara 6 sampai 10 menit saja. Bacin pun mempunyai jadwal ketat, ia setiap minggu memproduksi sebuah film lalu diunggah ke YouTube setiap hari Rabu.

“Tidak ada ciri khas khusus dari kami. Kita hanya mengangkat tema-tema dari obrolan sehari-hari saja. Namun bagi kami, ciri khas itu akan terbentuk ketika kita konsisten untuk terus berkarya,” imbuhnya. (wh)