Gara-Gara MH370, Lautan Penuh Sampah

Gara-Gara MH370, Lautan Penuh Sampah

Sebelum Malaysia Airlines Flight 370 hilang, sampah laut bukan pengisi headline media-media global. Tapi ratusan objek seperti puing-puing pesawat yang terlihat mengapung di lepas pantai Australia ternyata adalah sampah. Mulai peralatan memancing, bagian kargo kontainer, hingga tas belanja plastik. Perhatian dunia yang lantas beralih, dari sebuah perburuan pesawat hilang menjadi wacana kenyataan pahit bahwa lautan ternyata penuh sampah.

National Geographic mengungkapkan, sebagian besar sampah yang membanjiri lautan itu ialah plastik. Kehidupan laut yang penuh sampah itu bakal membawa konsekuensi bencana.

“Ini adalah pertama kalinya seluruh dunia menonton sampah-sampah yang begitu banyak. Itu menunjukkan kepada orang-orang agar paham bahwa lautan kita selama ini bak pembuangan sampah,” kata Kathleen Dohan, seorang ilmuwan di Bumi dan Space Research di Seattle, Washington.

Dohan yang memetakan permukaan laut arus tersebut memprediksi, masalah sampah itu ada di setiap cekungan laut. Ia memetakan gerakan puing-puing di time-lapsevideo yang menunjukkan beragam benda jatuh ke laut akan berakhir dalam sepuluh tahun.

Benda-benda itu bermigrasi ke daerah yang dikenal sebagai ‘tambalan-tambalan’ sampah. Samudera Pasifik dan Samudera Atlantik memiliki masing-masing dua tambalan, yakni utara dan selatan. Tambalan sampah Samudra Hindia berpusat kira-kira pertengahan antara Afrika dan Australia.

Tambalan sampah Samudera Pasifik ternyata yang paling besar. Musim panas lalu, Transpacific Yacht Race dari Los Angeles, California, berlayar ke Honolulu, Hawaii. Kala itu, tampak kayu, tiang telepon, dan puing-puing lainnya dari gempa bumi dan tsunami Jepang tahun 2011, mengapung hingga Texas. Besarnya ukuran tambalan sampah Samudera Pasifik itu antara Hawaii dan California.

“Ada selusin atau lebih perahu yang rusak akibat kayu terapung ini,” kata Nikolai Maximenko, seorang ahli kelautan di Pusat Penelitian Pasifik Internasional di University of Hawaii di Honolulu. Maximenko memperkirakan ada sekitar 100.000 sampai satu juta benda kayu besar, termasuk kayu dan balok dari rumah, yang masih mengambang di daerah tersebut.

“Ada analogi antara itu dan pesawat Malaysia,” katanya. “Dalam kedua kasus itu, kami tidak dapat menemukan sesuatu yang dapat diidentifikasi pada citra satelit. Kami tidak memiliki sistem pengamatan untuk melacak objek individu. Sistem ini perlu dibangun,” terang Maximenko.

Pembentukan kerajaan sampah itu diperkirakan pada tahun 1970 oleh para ilmuwan dari Woods Hole Oceanographic Institution di Woods Hole, Massachusetts.

Yang menyedihkan, sekitar 90 persen dari puing-puing di semua lima tumpukan dikonsumsi oleh satwa-satwa laut yang malang. “Terutama sampah plastik,” kata Marcus Eriksen, seorang ilmuwan kelautan dan pendiri 5 Gyres Institute yang bekerja untuk mengurangi polusi dari plastik sekali pakai.

Kini setengah abad kemudian, kita melihat akumulasi berlimpah microplastics dari semua sekali pakai. Mulai plastik sekali pakai seperti tas, botol, tutup botol, peralatan dapur. dan alat pemantik rokok.

Dia mengatakan, penyu dan California paus abu-abu juga konsumen yang tidak disengaja menelan plastik besar. “Anda dapat melihat gigitan ikan, sehingga secara bertahap, mengunyah plastik menjadi potongan-potongan kecil dan lebih kecil,” kata Maximenko. Setelah mencapai ukuran tertentu, dapat dicerna dan kemudian dengan cepat menghilang.

Konsentrasi tertinggi dari plastik dapat ditemukan di Atlantik Utara, yang sebagian besar isinya dari Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, dan Eropa.(wh)