Gandengn ITS, Kemenhub Kerja Sama Desain Kapal

Gandengn ITS, Kemenhub Kerja Sama Desain Kapal

foto:ist

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) meningkatkan kerja sama desain dan pengembangan kapal pelayaran rakyat sebagai satu kesatuan sistem transportasi nasional.

“Saya menilai ITS nemiliki kepedulian terhadap kemajuan dan pengembangan pelayaran, kelautan, tol laut, dan kapal perintis,” ujar Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Senin (15/4/2019).

Dalam kesempatan itu, Kementerian Perhubungan dengan ITS melakukan penandatanganan naskah oleh Menhub Budi Karya Sumadi dengan Rektor ITS Mochamad Ashari.

Budi Karya mengatakan adanya kerja sama dengan ITS ini membuktikan bahwa pemerintah serius ingin meningkatkan konektivitas berbagai daerah yang memiliki wilayah perairan luas dan membutuhkan kapal perintis yang memadai untuk penumpang dan barang.

Selain itu, kata dia, kerja sama tersebut juga bertujuan untuk mempercepat terwujudnya konektivitas transportasi yang handal, berdaya saing, dan memberikan nilai tambah, serta meningkatkan pelayanan ke daerah pedalaman atau perairan yang memiliki alur dengan kedalaman terbatas termasuk sungai dan danau.

Pengembangan desain kapal pelayaran rakyat (pelra) yang memiliki bentuk, ukuran, konstruksi, dan tipe kapal yang disesuaikan dengan daerah dan rute pelayaran yang memiliki alur dengan kedalaman terbatas termasuk sungai dan danau dan tenaga penggerak yang ramah lingkungan, jadi salah satu ruang lingkup yang harus diperhatikan didalam kesepakatan tersebut.

“Pemerintah ingin memberikan perhatian kepada masyarakat di Indonesia timur agar mendapat pelayaran yang  bersih, aman, dan efisien,” tandas Budi Karya.

Diakuinya memang ada dilema untuk pelayaran di perairan Indonesia timur, yaitu ombak yang cukup besar sehingga membutuhkan keberadaan kapal berukuran besar.

Ia juga mengajak pemerintah daerah untuk juga melakukan kerja sama dengan ITS untuk bersama mengembangkan kapal yang sesuai dengan wilayahnya masing-masing.

“Laut adalah masa depan yang harus dimanfaatkan, sehingga keberadaan kapal yang memadai ikut meningkatkan konektivitas penumpang dan barang,” pungkas Budi Karya. (ant/wh)