Gandeng 11 Bank, Garuda Indonesia Terbitkan Sukuk Global

Garuda Buka Kembali Rute Surabaya-Lombok
Garuda Buka Kembali Rute Surabaya-Lombok

  PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) mendirikan orphan company bernama Garuda Indonesia Global Sukuk Limited di Cayman Island terkait penerbitan sukuk global pada kuartal II-2015. Garuda juga menggandeng 11 lembaga keuangan untuk menangani surat utang syariah senilai USD 500 juta tersebut.

Sebanyak 11 lembaga keuangan yang digandeng Garuda antara lain National Bank of Abu Dhabi PJSC, Dubai Islamic Bank Hilal Bank PJSC, ANZ Banking Group Limited, Deutsche Bank AG cabang Singapura, Emirated NBD Capital Limited, dan Maybank Investment Bank Bhd. Selain itu, Garuda Indonesia juga menggaet Qinvest LLC, Standard Chartered Bank, Warba Bank, Noor Bank, dan First Gulf Bank.

Sebanyak 11 bank tersebut bertindak sebagai joint lead managers dan joint bookrunners. Adapun NBAD juga bertindak sebagai sole global coordinator. Selain itu, NBAD dan DIB juga berperan sebagai joint structuring advisor.

Sementara itu, Garuda Indonesia Global Sukuk Ltd didirikan pada 30 April 2015, dan bukan merupakan anak usaha perseroan. Namun, saham perusahaan itu dimiliki oleh suatu institusi pemegang saham berdasarkan hukum Cayman Island. “Selain sebagai penerbit sukuk, Garuda Indonesia Global Sukuk Ltd juga bertindak sebagai penerima pengalihan rights to travel dari perseroan, serta sebagai trustee dari para pemegang sertifikat sukuk,” ungkap treasury management Garuda dalam prospektusnya, Jumat (8/5/2015).

Sesuai rencana, penerbitan sukuk Garuda Indonesia dilakukan melalui skema private placement. Dalam hal ini, penerbitan sukuk akan dilakukan kepada investor di luar wilayah Indonesia. Pada struktur transaksi, perusahaan penerbit menerbitkan sertifikat sukuk kepada pemegang sertifikat. Kemudian, pemegang sertifikat akan membayarkan harga perbitan atas sertifikat kepada perusahaan penerbit.

Jatuh tempo sukuk global ini adalah lima tahun. Periode pembayaran dilakukan per enam bulan dengan rate maksimum 6,9 persen per annum. Pembayaran periodik kepada pemegang sukuk berasal dari hasil penjualan rights to travel dalam bentuk tiket penumpang yang dijual oleh perseroan.

“Penetapan 6,9 persen per annum dicapai dengan memperkirakan rate yang dapat dipenuhi oleh perseroan, juga mempertimbangkan kondisi pasar serta kekuatan perseroan dari sisi kredit dan permintaan investor,” ujar manajemen Garuda Indonesia. (bst)