Freeport Resmi Sewa Lahan Petrokimia Gresik Seluas 20 Hektar

Freeport Resmi Sewa  Lahan Petrokimia Gresik Seluas 20 Hektar
foto: gresikkab.go.id

PT Petrokimia Gresik menyatakan PT Freeport Indonesia menyewa lahan untuk fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral (smelter) di Gresik, Jawa Timur selama 20 tahun. Kesepakatan itu tertuang dalam Land definitive agreement yang ditandatangani pekan lalu.

Direktur Utama Petrokimia Gresik Hidayat Nyakman mengatakan Freeport memang menyewa lahan selama 20 tahun dan bisa diperpanjang 2×10 tahun. Namun dia enggan mengakui besaran tarif sewa lahan tersebut mencapai US$ 150 juta hingga 2035. “Tarif sewanya enggak bisa saya sebut. Yang jelas Freeport membayar sewa lahan per tahunnya,” kata Hidayat di Jakarta, Selasa (30/6/2015).

Hidayat menuturkan lahan seluas 80 hektare itu bakal diserahkan ke Freeport pada Maret 2016. Pasalnya 50 persen lahan masih dalam proses reklamasi. Dia mengakui pembayaran sewa lahan dilakukan pasca penyerahan lahan tersebut. “Kami butuh waktu untuk reklamasi. Maret tahun depan penyerahan lahannya,” ujarnya.

Lebih lanjut Hidayat mengungkapkan kesepakatan yang tercapai dengan Freeport masih sebatas soal lahan. Sedangkan kerjacsama jual beli asam sulfat masih dalam pembahasan lebih lanjut. Asam sulfat merupakan produk samping hasil smelter yang menjadi bahan baku pupuk. Selama ini Petrokimia menyerap asam sulfat yang dihasilkan dari smelter milik PT Smelting mencapai 1 juta ton. Dengan dibangunnya smelter yang berada di dekat pabrik Petrokimia maka asam sulfat yang dihasilkan bakal diserap sepenuhnya. Adapun smelter yang dibangun Freeport itu memiliki kapasitas bahan baku mencapai 2 juta ton konsentrat tembaga dengan investasi sebesar USD 2,3 miliar.

Freeport memang menggandeng Petrokimia terkait pembangunan smelter. Nota kesepahaman kedua belah pihak telah ditandatangani pada akhir Januari kemarin. Daisy mengungkapkan sewa lahan selama 20 tahun itu senilai US$ 150 juta. Hanya saja pembayaran sewa tersebut dilakukan setelah Petrokimia menyerahkan lahan itu. Pasalnya lahan tersebut masih ada yang dalam proses reklamasi sehingga belum siap digunakan oleh Freeport. “Land definitive agreement sudah ditandatangani pekan lalu,” jelasnya.

Kemajuan pembangunan smelter menjadi syarat yang harus dipenuhi Freeport dalam mendapatkan perpanjangan izin ekspor konsentrat. Pasalnya pemerintah hanya memberi izin selama enam bulan dan bisa diperpanjang selama enam bulan berikutnya. Izin ekspor Freeport diberikan untuk periode 26 Januari-25 Juli 2015.

Perusahaan tambang asal Amerika Serikat itu sudah mengajukan permohonan perpanjangan izin ekspor konsentrat kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Kamis pekan lalu. Dalam permohonan itu Freeport sudah melampirkan laporan kemajuan pembangunan smelter selama enam bulan terakhir.  (bst)