Foxconn Akuisisi Sharp Rp 46 Triliun

Foxconn Akuisisi Sharp Rp 46 Triliun
ilustrasi: strategyanalytics.com

Foxconn akhirnya resmi mengakuisisi Sharp dengan mahar sebesar 389 miliar yen atau sekitar Rp46 triliun.

Bos Foxconn Terry Gou dan Presiden Sharp Kozo Takahashi dilaporkan telah menandatangi kesepakatan tersebut di hadapan sekitar 300 jurnalis yang hadir di kantor pusat Sharp di Osaka, Jepang.

Nilai akuisisi ini sebenarnya di bawah jumlah yang disiapkan Foxconn pada awalnya, yakni USD 62 miliar atau sekitar Rp 81,5 triliun. Pengurangan harga ini disebabkan oleh laporan keuangan Sharp terakhir yang mereka dapat.

Laporan tersebut menyebut kalau Sharp mempunyai sejumlah liabilitas, yang akan membuat pemiliknya perlu mengeluarkan dana USD 3,1 miliar. Tentu Foxconn pun tak mau menanggung rugi akibat akuisisi tersebut, sehingga antara Foxconn dan Sharp kembali bernegosiasi soal harga.

Meski demikian, ini menjadi akuisisi terbesar perusahaan industri insular Jepang oleh perusahaan asing. Tak hanya itu, akuisisi ini juga mengakhiri sepak terjang Sharp sebagai perusahaan yang telah lebih dari 100 tahun berdiri.

Pada awalnya Foxconn akan menguasai 66 persen saham Sharp, yang akan meningkat menjadi 72 persen pada Juli 2017.

Akuisisi ini akan memberikan kesempatan pada Foxconn menguasai teknologi layar besutan Sharp. Selain itu, beberapa analis memperkirakan dengan akuisisi ini Foxconn dapat meningkatkan posisi tawarnya dengan Apple sebagai klien utama.

Foxconn merupakan perusahaan manufaktur yang terkenal karena memproduksi iPhone. Sementara Sharp sendiri adalah salah satu penyuplai komponen layar untuk perangkat buatan Apple itu.

Sharp menyebutkan bahwa Foxconn dapat memilih mayoritas dari dewan direksinya. Namun, informasi dari sumber anonim menyebutkan jika Terry Gou tidak akan mengubah jajaran eksekutif Sharp, termasuk memecat karyawan.

Sebagai informasi, Foxconn sendiri diketahui telah lama mengincar Sharp. Terry Gou mengungkapkan setidaknya butuh waktu sampai empat tahun sampai Sharp benar-benar mau menerima tawaran perusahaan asal Taiwan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Sharp tengah berada pada kondisi yang tidak baik. Raksasa elektronik Jepang itu dilaporkan terus menderita kerugian. Bersamaan dengan akuisisi ini, Terry Gou pun berjanji menyuntikkan dana segar untuk perusahaan tersebut.

Sebenarnya pemerintah Jepang tak suka jika ada perusahaan besar di negaranya yang diakuisisi oleh perusahaan asing. Jadi mereka pun menawarkan bantuan melalui sebuah konsorsium.

Bentuk bantuan yang ditawarkan oleh konsorsium tersebut adalah suntikan uang tunai sebesar US$2,6 miliar dan lini kredit sebesar US$1,78 miliar. Namun, bantuan tersebut ditolak oleh Sharp, dan akhirnya mereka jadi perusahaan besar asal Jepang pertama yang dimiliki oleh investor asing. (*)