Ini Tips Menjadi Fotografer Bertarif Mahal

 

Ini Tips Menjadi Fotografer Bertarif Mahal

Dalam menjalankan bisnis, passion memang penting. Tanpa passion, berbagai tantangan dan rintangan akan berasa berat. Sebaliknya, passion membuat pelaku bisnis melakoninya seringan mungkin saat melakukan hobi.

Pun dengan bisnis fotografi. Perkembangan teknologi fotografi memudahkan banyak pelaku yang menggeluti bisnis ini. Tak heran, sebagian besar orang akan berpikir bahwa teknik fotografi hanya berkutat pada urusan menekan tombol shutter.

Paradigma ini berbalik saat Kresnayana Yahya, Chairperson Enciety Business Consult, memaparkan realita sesungguhnya. Sebab, fotografer cuma menghabiskan 12 persen waktunya untuk memotret.

“Sisanya untuk editing, advertising, dan doing bisnis. Ini faktanya,” papar Kresna. Sehingga, kepiawaian memotret tak lagi menjadi satu-satunya penentu kesuksesan.

Menurut konsultan bisnis senior tersebut, fotografer harus mampu menerjemahkan keinginan klien dan memberikan kepuasan atau customer satisfaction. “Apa itu customer satisfaction? That’s a matter of convincing and influencing,” tegas pakar statistik ITS tersebut.

Meski fotografer adalah pihak yang menciptakan visual, ia harus bisa membubuhkan cerita dalam karyanya. Kemudian meyakinkan klien melalui argumen yang persuasif.

Maka, meskipun sering menemui klien yang cerewet dan menyebalkan, lanjut Kresna, di sanalah sang fotografer mengasah kepribadian. Serta, mentransfer keyakinan kepada orang lain.

Fotografer asal Jakarta, Gia Marescotti, mengamini pernyataan Kresnayana tersebut. Perempuan yang semula bekerja di bidang marketing communication itu mengungkapkan pengalamannya menghadapi klien cerewet.

Nggak sedikit klien yang nggak tahu apa yang mereka mau. Memang capek, tapi ini tuntutan profesi,” ujarnya.

Gia memahami bisnis fotografi penuh dengan tantangan. Di samping insting juga harus dibekali teknik fotografi yang mumpuni. Namun passion memudahkannya untuk terus bergerak. “Asalkan tetap menjunjung tinggi profesionalitas,” cetusnya.

Untuk meminimalisasi risiko menghadapi klien yang rewel, ia membagikan tips. “Saya selalu minta klien hadir saat pemotretan. Sehingga selalu ada approval yang jelas,” terangnya.

Di samping itu, sambung dia, fotografer harus jeli menerjemahkan keinginan klien agar mereka terpuaskan. Itu menjadi prasarat sesuai dengan bujet yang disodorkan.

“Itu sebagai bentuk penghargaan terhadap hasil karya kita sendiri. Karena, belum tentu klien mau kasih job ketika kita kasih harga murah,” tandas Gia, membagi rahasia.

Harga murah, menurut Gia, justru akan menimbulkan pertanyaan di benak calon klien tentang kualitas teknik fotografi. Kerja tepat lebih diutamakan ketimbang harga murah. Selama tujuh tahun, ia mematok tarif berdasar tingkat kerumitan dan lama editing.

Soal pertarungan antara idealisme dan kemauan klien, Gia tak menampiknya. Setiap fotografer pasti memiliki idealisme yang kerap bertentangan dengan selera klien. Namun, persaingan bisnis fotografi kini kian ketat.

“Kita nggak bisa mengedepankan ego, ‘kalo elo nggak suka, ya udah cari fotografer lain aja’,” cetusnya. “Mau tak mau, kepuasan klien ialah yang utama,” timpal Gia.

Kresnayana menambahkan satisfaction adalah tuntutan. “Kita hidup untuk surviving the deadline. Sebab, the product and the process will show the client,” tegasnya.

Punya kamera sebagus apapun, yang menenutkan ialah the man behind the camera. Kresnayana mengungkapkan, bayaran itu soal nanti. “Karena, pekerjaan paling menyenangkan adalah yang kita sukai dan klien pun senang,” ujarnya. (wh)