Filosofi Ruang Tamu

Filosofi Ruang Tamu

Kelompok kedua adalah orang-orang yang lebih memprioritaskan ruang keluarga. Ketika membahas rencana denah rumah, mereka lebih fokus pada ruang itu. Ketika kelompok ini telah menghuni rumahnya, tak jarang saya temui tumpukan kardus berisi barang dagangan atau barang lain teronggok di sudut ruang tamu. Lantas, dimana mereka menempatkan kursi dan perabot terbaik? Dimana lukisan mahal dan hiasan dinding mewah terpajang? Di ruang keluarga.

Saya menarik simpulan sederhana dari fenomena ini, bahwa mereka yang lebih mementingkan kenyamanan ruang keluarga dibanding ruang tamu merupakan golongan orang yang lebih mementingkan nilai/manfaat, lebih memprioritaskan isi dari pada kemasan. Lebih mengedepankan untung rugi dari pada sekedar citra diri atau pujian.

Uniknya, yang banyak masuk kelompok ini adalah kaum wirausahawan yang didominasi orang-orang Tionghoa. Meski biasanya cerewetnya kelewatan jika menyangkut hitung-hitungan biaya serta detail bangunan rumah, namun saya harus mengakui bahwa pola fikir dan mentalitas mereka patut ditauladani oleh orang-orang yang ingin berwirausaha. Faktor tampilan/kemasan/gengsi memang tak bisa dihilangkan begitu saja, namun harus dalam porsi yang pas tanpa mengorbankan hal yang lebih penting.

Fakta bahwa komunitas Tionghoa lebih banyak menerapkan pemahaman “ruang keluarga” seyogianya jadi perhatian kita semua. Mereka tidak pusing dengan status profesi dan tetek bengek tampilan lainnya. Perhatian mereka lebih fokus pada hasil. Apalah arti status bergengsi macam manager/kepala cabang/kepala dinas jika rekeningnya kurus. Lebih baik berstatus “tukang bakpauw” asal rekeningnya gendut dan bisa menciptakan lapangan kerja bagi orang lain.

Kantor yang megah, ruang kerja ber-AC, seragam berdasi, nama jabatan dengan istilah asing, sering menjadi magnet penarik minat anak-anak muda. Mereka enggan melirik profesi wirausahawan yang sering tampil apa adanya dan berlepotan barang dangangan. Banyak pula orang yang menghalalkan segala cara untuk bisa menduduki jabatan di pemerintahan meski sadar gaji resminya amat kecil. Mengapa demikian? Karena tampilannya gagah dan gengsinya dianggap OK. Mereka lebih mementingkan ruang tamu dari pada ruang keluarga. Mentalitas yang demikian, menjadi hambatan suburnya semangat entrepreneurship di negeri ini. Bagaimana dengan Anda?

*Pengusaha properti dan penulis novel