Filosofi Ruang Tamu

Filosofi Ruang Tamu

*Suwandono (mr.swand @yahoo.co.id)

Sebagai pengembang perumahan, saya leluasa berinteraksi dengan banyak orang yang memiliki kharakter dan latar belakang warna-warni. Dari yang pembawaannya kalem sampai yang cerewetnya minta ampun. Dari suku Batak, Jawa, Dayak, Tionghoa hingga Asmat. Ada yang bergelar profesor, ada pula yang tidak tamat Sekolah Dasar.

Saya merekam satu fenomena unik ketika berinteraksi dengan mereka, yakni pada saat membahas disain rumah. Fenomena ini bisa mencerminkan pola fikir/mentalitas dan penentuan prioritas dalam pengambilan keputusan. Perilaku dari para pembeli rumah itu dapat saya bagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama adalah orang-orang yang lebih menaruh perhatian pada “ruang tamu”. Mereka yang masuk kelompok ini selalu ingin ruang tamu rumahnya didisain sesempurna mungkin. Bahkan, untuk rumah sederhana tipe 36 pun, mereka masih sibuk mengutak-atik posisi ruang tamunya. Untuk tujuan itu, mereka rela mengorbankan ruang lainnya (ruang keluarga/kamar tidur/ruang makan) karena lebih mementingkan estetika ruang tamu.

Ketika rumah selesai dibangun dan lantas dihuni, ruang tamu tetap menjadi bagian paling istimewa. Ditata serta dihias sedemikian rupa agar tampak representatif, furniture yang ditempatkan juga yang terbaik. Pendek kata, segala daya upaya dicurahkan untuk mempercantiknya. Bagaimana dengan ruang keluarga? Wilayah yang sebenarnya paling banyak dimanfaatkan oleh penghuni rumah itu justru miskin perhatian. Kursinya kalah kelas dibanding yang mejeng di ruang tamu, perabot lainnya pun terkesan ala kadarnya.

Saya pernah melontar tanya bernada guyonan, “berapa tamu yang berkunjung dalam waktu sebulan?” Jawaban yang saya peroleh: “belum tentu”. Kadang seminggu sekali, kadang tidak satu pun tamu yang berkunjung. Alhasil, kursi terbaik yang mejeng di ruang tamu jarang dimanfaatkan.

Lantas, mengapa tetap memprioritaskan ruang tamu meski jarang ada tamu yang datang? Jawaban mereka: “ingin menghormati tamu”. Namun, di balik jawaban diplomatis itu tersembunyi keinginan untuk menampilkan citra diri yang baik pada orang lain atau ingin tampak bergengsi. Meski demi pemenuhan kebutuhan pujian itu harus mengorbankan efektifitas ruangan lain yang sebenarnya lebih berguna.