Film 99 Cahaya di Langit Eropa Sukses Tanpa Resep “3G”

Film 99 Cahaya di Langit Eropa Sukses Tanpa Resep “3G” Film 99 Cahaya di Langit Eropa berhasil mendapatkan angka satu juta penonton dalam waktu kurang dari satu bulan. Film yang diadaptasi dari buku karya Hanum Rais ini telah mengalahkan film-film nasional lainnya yang sama-sama dirilis pada Desember 2013. Beberapa film yang dikalahkan oleh 99 Cahaya di Langit Eropa antara lain Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Soekarno.

Hanum Rais sebagai penulis skenario film ini merasa bangga filmnya disukai oleh penonton di Indonesia. Dia tidak melihat film ini sebagai siapa mengalahkan siapa, tetapi melihat semua film, sama berkualitas dan mewarnai perfilman Indonesia.

“Saya senang 99 Cahaya bisa ditonton lebih dari satu juta kali,” kata Hanum.

Dengan suksesnya film 99 Cahaya di Langit Eropa, Hanum berharap film ini bisa menjadi inspirasi sineas lainnya, bahwa film Indonesia juga bisa laris tanpa resep “3G” yang biasa digunakan di film-film Indonesia.

“Saya bersyukur ya, karena bisa dibilang film ini lain dari biasanya karena enggak pakai resep 3G. Kita enggak pake G pertama, maksudnya, girls. Enggak ada perempuan sensual di film ini. Kita juga enggak pakai G kedua yaitu ghost. Enggak ada wewe gombel atau teman-temannya, dan enggak ada G terakhir yaitu gun, atau ledakan, tembakan dan sejenisnya,” ujar putri Amien Rais ini.

Hanum menjelaskan, ada beberapa faktor yang menurutnya menjadi daya tarik tersendiri dari film ini. Yang pertama tentunya adalah film ini diangkat dari buku berjudul sama yang telah dicetak ulang hingga 20 kali dalam dua tahun terakhir.

“Dari pembacanya sendiri sudah pasti mau lihat filmnya seperti apa,” ungkap Hanum. Selain itu, hal terpenting lainnya adalah nilai-nilai sejarah yang ada di film ini.

Selain dialognya yang sederhana namun mendalam, film ini juga mengandung nilai-nilai sejarah Islam di Eropa. Mulai dari Napoleon Bonaparte sampai Bunda Maria, itu juga bagian daya tarik

Terakhir, menurut Hanum, yang membuat film ini meledak adalah rasa puas dan keinginan menonton berulang kali.

Kata Hanum, jarang sekali penonton menularkan keinginannya pada orang lain. Misalnya si A nonton pertama dengan temannya, begitu dia senang, dia bisa ajak orang tuanya untuk nonton yang kedua kalinya. Saya yakin 20 persen penonton ini adalah yang telah menonton berulang kali.

Hanum yakin, jika film memiliki kualitas yang bagus, pasti bisa diterima tanpa harus memakai resep-resep tertentu. Hingga minggu terakhir tahun 2013, kabar yang diterima dari Odi M. Hidayat, produser 99 Cahaya di Langit Eropa, film ini telah ditonton oleh 1.040.000 orang di seluruh Indonesia. Setelah kesuksesan yang diraihnya ini, Hanum berharap sekuel film 99 Cahaya di Langit Eropa yang akan meluncur pada 2014 juga bisa diterima oleh masyarakat seperti film sebelumnya.

Film 99 Cahaya di Langit Eropa merupakan film yang menceritakan perjalanan Hanum dan Rangga, sepasang mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Eropa. Dalam perjalanan tersebut, akhirnya mereka mengetahui sejarah Islam yang ada di Benua Eropa. Film ini telah dirilis pada 5 Desember 2013. Film dibintangi oleh Acha Septriasa, Abimana Aryasatya, Raline Shah, Dewi Sandra, dan beberapa artis lainnya. (Tempo)