Festival ‘Sinema Prancis 2014’ Hadirkan Delapan Film Terbaru

Festival 'Sinema Prancis 2014' Hadirkan Delapan Film Terbaru
kiri: Veronique Mathelin dan GM Sheraton Chritopher Moore dalam acara konpers Festival Sinema Prancis.

Institut Francais Indonesia (IFI) Surabaya akan memutar delapan film terbaru Prancis dalam Festival ‘Sinema Prancis 2014’ yang bekerja sama dengan Ciputra World XXI/Studio 8, Surabaya, Jawa Timur, 5–7 Desember 2014.

“Dalam Tur Sinema Prancis edisi ke-19 itu, festival itu hadir pada 10 kota, yakni Surabaya, Jakarta, Balikpapan, Bandung, Bali, Jombang, Makassar, Malang, Medan, dan Yogyakarta,” kata staf Budaya dan Komunikasi IFI Surabaya Pramenda Krishna A., Senin (1/12/2014).

Ia menjelaskan delapan film Prancis yang belum pernah ditayangkan di Indonesia itu berasal dari berbagai genre, seperti komedi, drama, asmara, thriller, dan fantasi. Semua film merupakan rilis premiere di Indonesia.

“Inilah kesempatan terbaik bagi publik Indonesia untuk menyaksikan produk sinema Prancis yang lima tahun terakhir telah meraih lima Oscar di Hollywood dan dua Palme d’Or di Cannes,” katanya.

Selain itu, festival juga dimeriahkan dengan pemutaran film animasi karya Jacques-Romy Girerd & Folimage yang dikenal sebagai sutradara dan produser film animasi yang lembut dan puitis.

“Jacques-Romy Girerd telah mendapatkan penghargaan The Best Animated Feature dalam ajang European Film Awards 2009 untuk karyanya Mia et le Migoo serta dinominasikan penghargaan Oscar kategori film animasi terbaik tahun 2010 untuk film Une Vie de Chat,” katanya.

Pendiri studio animasi Folimage dan sekolah animasi La Poudrire ini juga menyutradai tiga film panjang, di antaranya La Prophtie des grenouilles yang sukses mendulang penonton dan mendapatkan beberapa penghargaan bergengsi di berbagai belahan dunia. Film panjang terakhirnya, Tante Hilda! yang lolos seleksi kompetisi di ajang Berlinale 2014.

Belasan film yang diputar, antara lain Sils Maria (The Clouds of Sils Mari), Mea Culpa, Elle l’adore, Qu’est-ce qu’on a fait au Bon Dieu?, La belle et la bte (The Beauty and The Beast), Atilla Marcel, Grace of Monaco, dan Casse-tte chinois (Chinese Puzzle).

Festival Sinema Prancis merupakan festival sinema asing pertama di Indonesia yang digagas sejak 1996. Festival itu menjadi ruang temu bagi publik Indonesia untuk mengapresiasi keragaman dan kualitas produk perfilman Prancis. Mulai 2012, Festival Sinema Prancis memantapkan visi dengan membangun program yang berkelanjutan melalui kerja sama dengan berbagai pihak di Indonesia untuk program sinema, program bantuan film, dan sebagainya.

Direktur Institute Francais Indonesia (IFI) Surabaya Veronique Mathelin mengatakan pihaknya mengadakan acara yang bertemakan Festival Sinema Prancis agar lebih diketahui masyarakat luas.

“Kekayaan seni yang dimiliki negara Prancis sangat luar biasa. Dan kami ingin mengenalkan seni sinematografi kepada masyarakat,” kata Veronique Mathelin. (wh)