Festival Maulud, Warga Surabaya Berebut Gunungan Hasil Bumi

Festival Maulud, Warga Surabaya Berebut Gunungan Hasil Bumi
Foto: Warga berebut gunungan hasil bumi di Taman Surya Surabaya dalam Festival Maulud 2015, Minggu (25/1/2015). Avit hidayat/enciety.co

Di antara kemeriahan Festival Maulud 2015, yang justru menarik bagi warga adalah acara berebut gunungan hasil bumi di Taman Surya Surabaya, Minggu (25/1/2015). Dengan penuh semangat ribuan warga Surabaya saling berebut berbagai hasil bumi yang ditumpuk seolah gunungan kecil.

Salah satunya adalah Herman (55), warga Surabaya, yang sangat antusias untuk mendapatkan berbagai hasil bumi. Sebelum dimulai, pria paruh baya ini mengaku telah bersiap-siap, dengan sekuat-tenaga ia mengincar aneka jajanan yang dipajang menggunung. “Dapat banyak ini,” akunya, lalu tertawa lepas.

Sementara itu, satu di antara penggagas Festival Maulud 2015 Herry Lento menjelaskan bahwa pada tahun ini diberi warna baru dengan mengemas hasil bumi warga Surabaya menjadi gunungan untuk diperebutkan. Seperti halnya tradisi di desa-desa, rencananya pada tahun depan pengemasan Festival Maulud 2015 akan dipercantik lagi untuk menarik animo warga Surabaya.

“Sejak dulu, di Surabaya sudah ada tradisi perayaan Maulud Nabi Muhammad SAW di mana anak-anak akan memakai topeng Maulud. Biasanya dulu, ibu-ibu yang yang pergi ke pasar, membelikan anak-anaknya topeng Maulud. Di kampung-kampung semuanya pakai topeng itu. Itu yang kemudian kita hidupkan kembali tradisi ini,” terangnya.

Festival Maulud, Warga Surabaya Berebut Gunungan Hasil Bumi
foto:avit hidayat/enciety.co

Ini yang kemudian diadopsi oleh Herry agar tradisi topeng Maulud tidak pudar seiring dengan derasnya budaya asing masuk Surabaya. Karena menurutnya, Topeng Maulud merupakan bagian dari kearifan budaya lokal yang ada di Surabaya selain ludruk, manten pagon, tari remo, undukan doro, dan gulat okol.

Di satu sisi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya yang diwakili oleh Fauzie M Yos mengatakan festival Maulud 2015 ini diramaikan oleh sedikitnya 1.200 warga Surabaya. Di antaranya terdiri dari ibu-ibu yang mengenakan berbagai kostum, anak-anak, pelajar dari berbagai sekolah di Surabaya, dan komunitas dari sanggar tari dan seni di Srabaya.

“Kita melihat animo partisipasi publik yang datang semakin meningkat dibanding tahun sebelumnya. Ini kita lakukan, selain untuk melestarikan budaya, kami juga berharap kegiatan tahunan ini nantinya bisa menjadi destinasi wisata di Surabaya,” jelasnya. (wh)