Festival Karapan Sapi di Kenjeran

Festival Karapan Sapi di Kenjeran
Ajang karapan sapi yang berlangsung di THP Kenjeran Surabaya, 15/12/2013.

Matahari tepat di atas kepala saat empat kelompok sapi beradu berlari cepat. Teriakan penonton tak henti mengiringi untuk menyemagati.  Kedua pasang sapi yang berlomba tersebut ukuran kecil. Dua pasang sapi lain berukuran besar, usianya sekitar 15 tahun. Kedua jenis sapi itu pun berlari kesetanan begitu wasit melecutkan cambuknya ke tanah.

Sapi-sapi yang ditunggangi para tokang tongkok (pengendara karapan) terus berlari kencang. Dengan rekeng (pemukul) yang dipukulkan ke bagian belakang sapi, membuat sapi berlari tunggang-langgang.

Keriuhan itu terjadi di Taman Hiburan Pantai (THP) Kenjeran, Minggu (15/12/2013) siang. Saat Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya menggelar event Festival Karapan Sapi 2013. Ada delapan ekor sapi khusus didatangkan dari Madura.

Abdul Hamid, salah satu pemilik sapi, menyebutkan semua sapi ini didatangkan dari Sumenep. Bukan sapi sembarangan, sapi yang didatangkan untuk karapan ini dari memang digunakan untuk balapan. Jenis makanannya pun khusus, tidak seperti sapi perah atau sapi jenis lain.  “Sapi-sapi balapan ini juga diberi jamu. Jamunya bisa telor untuk penambah stamina,” katanya.

Sebelumnya, ada sejumlah pihak yang menentang kegiatan karapan sapi. Ini karena lomba ini menggunakan benda tajam, seperti paku pada rekeng (pemukul) yang digunakan. Menururut Hamid, khusus dalam festival ini, rekong yang digunakan terbuat dari bambu. Jadi lebih lunak, tidak menyakiti hewan. “Tapi rekeng yang dipakai tetap bisa memicu sapi untuk berlari kencang,” ujarnya.

Tak hanya disuguhi tontonan karapan sapi, pengunjung THP Kenjeran juga dimanjakan seni tari rangkaian dari karapan sapi. Di antaranya tari Praben Prekas dan tari Pasemowan. Tari ini ditampilkan sebelum karapan sapi dimulai. Tarian tersebut menceritakan seluruh perjalanan karapan sapi. Mulai dari tahap pemeliharaan, selamatan, proses kerap, hingga kemenangan. Khusus untuk dua tari ini, dibawakan anak-anak  Sanggar Tarara dari Bangkalan, Madura.

Kepala Bagian Rekreasi dan Hiburan Umum (RHU) Disparta Surabaya Fauzi M Yos mengungkapkan festival ini digelar untuk meramaikan THP Kenjeran ini. “Supaya ada hiburan baru, kami juga mengajak penikmat Surabaya Shopping and Culinary Track untuk menikmati festival ini,” jelasnya. Dengan adanya tambahan acara di lokasi wisata ini,  tambah Fauzi berharap pendapatan pedagang di sekitar wisata dapat meningkat.

Kepala Disparta Wiwiek Widayati mengungkapkan bahwa festival ini diharapkan dapat menjadi destinasi baru bagi masyarakat Surabaya. “Agar tidak bosan, tetapi juga bangga dengan wisata dalam kota sendiri,” ungkapnya.

Selain itu, Wiwiek menyebutkan bahwa tahun ini jumlah wisatawan kembali meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Berdasarkan data, per September lalu, wisman Surabaya mencapai 300 ribu lebih.

“Jumlah tersebut belum ditambah dengan kunjungan turis dari kapal pesiar yang mencapai 250 orang,” katanya.

Padahal, terang dia,  tahun 2011, jumlah wisman Surabaya 279.230 orang. Tahun 2012 wismannya 350 ribu orang. “Kini dan tahun depan kami akan melanjutkan optimalisasi destinasi wisata kota Surabaya yang saat ini mencapai lebih 20 destinasi andalan,” tandasnya. (wh)