FBI Dilibatkan dalam Operasi Pencarian Pesawat Malaysia

FBI Dilibatkan dalam Operasi Pencarian Pesawat Malaysia

 

Para pejabat mengatakan masih terlalu dini untuk berspekulasi mengenai hubungan antara paspor curian dengan hilangnya pesawat Malaysian Airlines. Namun gusar karena ada penumpang bisa naik dengan paspor curian.

Aparat multinasional masih belum mengetahui apa yang terjadi pada pesawat tersebut dan mencari berbagai kemungkinan, termasuk kemungkinan serangan teror. Lembaga anti-terorisme dan FBI dilibatkan dalam operasi itu. Identitas dari beberapa penumpang di dalamnya sedang diselidiki.

Kepala Penerbangan Sipil Malaysia Azharuddin Abdul Rahman mengatakan, ada lima penumpang terdaftar tidak naik dan barang-barang mereka telah dipindahkan dari bagasi.

Badan kepolisian internasional Interpol juga menegaskan,dua penumpang yang bepergian dengan paspor curian terdaftar di basis data. Para penumpang -yang bepergian dengan paspor Italia dan Austria telah dicuri di Thailand- membeli tiket pesawat mereka pada saat yang sama, dan dipesan pada penerbangan selanjutnya dari Beijing ke Eropa pada hari Sabtu.

Keduanya telah membeli tiket dari China Southern Airlines, bekerja sama dengan maskapai Malaysia Airlines, dan mereka memiliki nomor tiket berurutan.

“Meskipun terlalu dini untuk berspekulasi tentang adanya hubungan antara paspor yang dicuri dan pesawat hilang, tapi kami sangat prihatin bahwa ada penumpang yang bisa naik penerbangan internasional menggunakan paspor curian yang terdaftar dalam basis data Interpol,” kata Sekretaris Jenderal Interpo  Ronald Noble.

“Selama empat tahun terakhir, saya telah sering melakukan perjalanan melalui bandara yang sama. Sebagai pemegang paspor Kanada saya harus memindai kedua jari telunjuk sebelum saya memasuki negara tetapi tidak ketika saya pergi. ” tandas Jennifer Pak, wartawan BBC.

Dia mengatakan tidak ada pemeriksaan basis data oleh Interpol untuk salah satu paspor pada waktu mereka dicuri dan keberangkatan pesawat.

Ia menambahkan beberapa dari 190 negara anggota Interpol telah mencari basis data secara “sistematis”.

Sementara itu, wartawan BBC di Malaysia Jennifer Pak mengatakan berdasarkan pengalamannya di bandara Kuala Lumpur, dia tidak harus memindai kedua jari telunjuk sebelum dia meninggalkan Malaysia.

“Selama empat tahun terakhir, saya telah sering melakukan perjalanan melalui bandara yang sama. Sebagai pemegang paspor Kanada saya harus memindai kedua jari telunjuk sebelum saya memasuki negara tetapi tidak ketika saya pergi.

“Sistem biometrik dibuat pada tahun 2011 untuk mencegah orang asing datang berulang kali untuk bekerja secara ilegal dan untuk mencegah perdagangan manusia dan penyelundupan satwa liar,” kata Jennifer.

Para penumpang pada penerbangan itu berasal dari 14 kewarganegaraan. Dua pertiga berasal dari China, sementara yang lain berasal Asia, Amerika Utara dan Eropa. (bh)