5 Fakta Terkait Abu Vulkanik dan Saluran Napas

5 Fakta Terkait Abu Vulkanik dan Saluran Napas

Abu vulkanik dari letusan gunung berapi tak selalu terhirup ke dalam saluran pernapasan. Jika terhirup, seseorang bisa mengalami gangguan pernapasan.

Demikian disampaikan Ahli Paru-paru RS Persahabatan, Divisi Penyakit Paru Akibat Kerja dan Lingkungan Departemen Pulmonologi FKUI, dr Agus Dwi Susanto SpP (K), Jumat (14/2/2014).

“Abu tak semuanya masuk ke pernapasan. Hanya yang di bawah 10 mikron baru masuk ke saluran napas,” kata dr Agus.

Berikut beberapa fakta abu vulkanik yang berdampak pada kesehatan seseorang:

1. Ukuran

Jika ukuran abu di atas 10 mikron maka tak masuk ke saluran napas karena kebesaran. Sementara, jika ukurannya di bawah 5 mikron maka akan sampai ke alveoli (saluran napas bawah).

Kalau ukurannya di bawah 10 mikorn bisa terhirup dari saluran napas atas sampai bawah. Jika 5 mikron sampai alveoli.

2. Konsentrasi

Lebih banyak abu yang terhirup maka dampaknya lebih besar. Begitu juga dengan konsentrasinya.

Semakin tinggi konsentrasinya dampaknya lebih besar dibandingkan yang konsentrasinya rendah.

3. Lama

Lamanya orang itu terpapar abu vulkanik bisa membuat seseorang menghirup abu. Kalau di luar rumah seperti di jalan dampaknya lebih besar dibandingkan yang di rumah. Jadi pencegahannya jangan boleh keluar rumah.

4. Komponen Abu

Komponen abu ada yang sifatnya asam dan ada yang basa. Kalau asam lebih merusak jaringan.

5. Individu

Orang yang rentan seperti orang tua, bayi, anak-anak, ibu hamil, dan orang yang memiliki penyakit paru.

Orang yang rentan lebih berisiko (gangguan pernapasan) dibandingkan orang yang tak mempunyai penyakit paru seperti PPOK, asma. Tapi, orang normal juga bisa.

Gunung Kelud meletus Kamis malam, 13 Februari 2014 pukul 23.50 WIB. Gunung itu menyemburkan asap dan material vulkanik setinggi 3.000 meter. Dan saat ini, gunung yang terletak di perbatasan Kediri, Blitar, dan Malang ini berstatus Awas atau level IV sejak Kamis 13 Februari, pukul 22.15 WIB. (lp6/bh)