ExxonMobil Bangun Pabrik Pengolah Minyak di Singapura

ExxonMobil Bangun Pabrik Pengolah Minyak di Singapura

ExxonMobil resmi meluncurkan unit kimia pertama di dunia yang mengolah minyak mentah di Singapura, Rabu (8/1/2014). Seperti yang dimuat Reuters, pabrik itu dibangun untuk menurunkan biaya, sehingga lebih bersaing dengan para pesaing di pasar yang kini telah kelebihan kapasitas.

Perusahaan kimia biasanya mengolah produk minyak sulingan seperti nafta pada fasilitas yang disebut cracker (pemecah molekul) untuk membuat petrokimia seperti ethylene dan propylene. Nafta dibuat dengan memisahkan minyak mentah menjadi kelompok-kelompok yang lebih ringan. Inilah yang selanjutnya diolah menjadi produk seperti plastik, sabun, atau serat sintetis.

Namun cracker baru ExxonMobil di Singapura nantinya memungkinkan perusahaan untuk mempersingkat proses penyulingan, dengan mengolah minyak mentah langsung ke petrokimia. Proyek ini sempat tertunda dua tahun, karena kompleksitas dan prospek ekonomi yang lemah.

“Ini adalah tempat yang tepat untuk melakukan pemecahan minyak mentah, karena memberikan kita keuntungan atas bahan baku utama di wilayah ini,” jelas Presiden ExxonMobil Chemical, Stephen Pryor kepada Reuters.

Cracker yang telah kami bangun adalah yang paling fleksibel yang pernah dibangun. Dapat memecahkan apapun, mulai gas ringan sampai cairan berat. Termasuk minyak mentah,” paparnya.

Pryor melanjutkan, teknologi baru ini membantu mengurangi biaya bahan baku, konsumsi energi, dan emisi karbon. Di sisi lain, cracker akan terus memproduksi komponen bahan bakar .

Ia menolak untuk menjelaskan lebih detail tingkat penyimpanan ExxonMobil atau merinci nilai minyak mentah yang diproses di cracker. Data Reuters menunjukkan, biaya minyak mentah Brent USD 160 per ton lebih rendah dari nafta Asia <NAF-1H-TYO>.

Cracker di Asia biasanya menggunakan nafta sebagai bahan baku. Ini memberikan keuntungan tersendiri bagi industri di Timur Tengah. Mereka tengah menikmati keuntungan biaya, karena memproses etana lebih murah dan gas propana ke petrokimia.

Kompleks multimiliar dolar di Jurong Island itu termasuk 1 juta ton per tahun (tpy) cracker uap serta produksi minimal 1,4 juta tpy polimer dan elastomer. Cracker itu dibawa secara online pada pertengahan tahun lalu, namun ExxonMobil tak mengkonfirmasi penggunaan minyak mentah sebagai bahan baku sebelumnya.

Pryor menambahkan, pihaknya melihat pertumbuhan permintaan yang baik di Cina dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. “Dengan meningkatnya sektor ekspor China, kita berharap pertumbuhan itu terus berlanjut,” ungkapnya.

Ditambah lagi, permintaan kimia global untuk petrokimia primer diperkirakan akan tumbuh sekitar 50 persen selama dekade berikutnya.

Untuk memenuhi kebutuhan ini, ExxonMobil juga berencana menaikkan kapasitas ethylene pada joint venture dengan Saudi Aramco dan Sinopec di Cina Fujian selatan. Targetnya sebesar 200.000 ton per tahun pada tahun 2015. Di pabrik Singapura, Exxon membidik penghasilan petrokimia khusus, seperti karet butil untuk ban dan resin premium untuk perekat,” tukas Pryor.(wh)