Eximbank Genjot Pembiayaan Rumput Laut

 

Eximbank Genjot Pembiayaan Rumput Laut

Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia  genjot penyaluran pembiayaan ke komoditas rumput laut. Pasalnya, Indonesia berpeluang untuk menjadi negara produsen utama rumput laut dunia. Saat ini posisi Indonesia nomor dua di bawah Filipina.

Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank I Made Gde Erata mengatakan, produksi komoditas rumput laut di Tanah Air memang terus meningkat di mana rata-rata pertumbuhan produksi selama empat tahun terakhir sebesar 29 persen per tahun. Hal inilah yang merupakan salah satu faktor Indonesia menjadi negara eksportir terbesar rumput laut senilai USD 162,5 juta di tahun 2013.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), data produksi budidaya rumput laut Indonesia pada 2013 mencapai 8,2 juta ton. Angka itu lebih besar dari target yang telah ditetapkaan pemerintaah sebelumnya yaitu 7,5 ton.

“Pembiayaan ke komoditas rumput laut akan terus kami tingkatkan. Komoditas ini banyak disalurkan ke UKM, meski jumlahnya kecil tapi jangkauannya luas,” ujarnya dalam seminar rumput laut yang bertemakan Potensi dan Tangangan Ekspor sebagai Komoditas Unggulan Indonesia, di Jakarta, Selasa (3/6/2014).

Disebutkannya, potensi ekspor rumput laut cukup bagus. Hingga April 2014, tercatat pembiayaan yang disalurkan Eximbank untuk rumput laut sebesar Rp 70,5 miliar. Adapun, pembiayaan Eximbank, sebut Erata sampai Mei sudah naik 50 persen dari posisi yang sama tahun lalu menjadi Rp 45,3 triliun. Sedangkan, asetnya naik 26,2 persen menjadi Rp 51 triliun. “Dari awal berdirinya lembaga ini, pertumbuhan aset sudah 4 kali, tapi pembiayaan 4,9 kali,” ucapnya.

Sementara laba per Mei tembus Rp 496,7 miliar, naik dua kali lipat dari posisi yang sama tahun lalu. Kenaikan dipicu penguatan dolar, NPL yang dapat ditekan dan efisiensi biaya.

Kembali ke rumput laut, Erata menambahkan, ada sejumlah tantangan industri rumput laut nasional yang harus diatasi segara. Pertama, belum maksimalnya kegiatan industri pengolahan rumput laut. Kedua, kurangnya diversifikasi produk rumput laut.

Ketiga, tersendatnya pengembangan rumput laut akibat terganjalnya ketentuan tata ruang. Keempat, tidak ada jaminan kualitas produksi. Kelima, stabilitas harga rumput laut yang masih fluktuatif.

“Itu harus ditangani karena sejumlah potensi dimiliki Indonesia untuk menjadi pemain utama rumput laut global,” ujar dia. (bst/ram)